ILO Dorong Inklusi Keuangan UMKM Melalui Program Promise II Impact
Senin, 16 Februari 2026 - 19:24 WIB
Penguatan akses pembiayaan menjadi fokus utama melalui kemitraan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pemanfaatan data dan teknologi. Di Pangalengan, Jawa Barat, peternak sapi perah didukung dengan sistem pencatatan digital setoran susu serta fasilitasi kredit dari bank perkreditan rakyat. Rekam jejak produksi yang terdokumentasi memungkinkan peternak memperoleh pembiayaan untuk menambah ternak dan memperluas usaha.
Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan skala usaha sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja di tingkat komunitas. Inklusi keuangan yang lebih luas juga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
OJK mencatat UMKM masih menghadapi tantangan utama berupa keterbatasan akses pendanaan dan kapasitas pengelolaan usaha. Banyak pelaku usaha belum memiliki pencatatan keuangan yang memadai sehingga menyulitkan lembaga keuangan menilai kelayakan pembiayaan. “Melalui program pengembangan ekonomi daerah, OJK mendorong sektor-sektor unggulan untuk memperkuat UMKM. Salah satunya adalah sektor sapi perah, yang dipilih karena tantangannya paling kompleks,” ujar Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Ludy Arlianto.
Selain akses pembiayaan, program ini juga mendorong penguatan pelatihan vokasi dan peningkatan keterampilan praktis bagi pelaku usaha. ILO memberikan pelatihan pencatatan keuangan sederhana agar pelaku usaha lebih siap mengakses layanan keuangan formal dan meningkatkan profesionalisme usaha.
"Sering kali kendala utama bukanlah tidak adanya akses kredit, melainkan ketiadaan pencatatan keuangan yang memadai. Tanpa data yang jelas, lembaga keuangan sulit menilai kelayakan pembiayaan. Melalui pencatatan yang terstruktur, pelaku usaha menjadi lebih siap dan memenuhi syarat pembiayaan dari perbankan," ujar Djohari Sitorus.
Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan skala usaha sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja di tingkat komunitas. Inklusi keuangan yang lebih luas juga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
OJK mencatat UMKM masih menghadapi tantangan utama berupa keterbatasan akses pendanaan dan kapasitas pengelolaan usaha. Banyak pelaku usaha belum memiliki pencatatan keuangan yang memadai sehingga menyulitkan lembaga keuangan menilai kelayakan pembiayaan. “Melalui program pengembangan ekonomi daerah, OJK mendorong sektor-sektor unggulan untuk memperkuat UMKM. Salah satunya adalah sektor sapi perah, yang dipilih karena tantangannya paling kompleks,” ujar Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Ludy Arlianto.
Selain akses pembiayaan, program ini juga mendorong penguatan pelatihan vokasi dan peningkatan keterampilan praktis bagi pelaku usaha. ILO memberikan pelatihan pencatatan keuangan sederhana agar pelaku usaha lebih siap mengakses layanan keuangan formal dan meningkatkan profesionalisme usaha.
"Sering kali kendala utama bukanlah tidak adanya akses kredit, melainkan ketiadaan pencatatan keuangan yang memadai. Tanpa data yang jelas, lembaga keuangan sulit menilai kelayakan pembiayaan. Melalui pencatatan yang terstruktur, pelaku usaha menjadi lebih siap dan memenuhi syarat pembiayaan dari perbankan," ujar Djohari Sitorus.
Lihat Juga :