Sawit Jadi Tameng Energi Indonesia di Tengah Konflik Timur Tengah, Ini Buktinya
Minggu, 08 Maret 2026 - 14:29 WIB
“Dalam beberapa tahun terakhir, produksi biodiesel dari sawit meningkat pesat. Dari sekitar 8,4 juta kiloliter pada 2020 menjadi sekitar 20,1 juta kiloliter pada 2026,” ujar Fahmi, ditulis Sabtu (7/3).
Ia menjelaskan bahwa peningkatan produksi biodiesel membuat kebutuhan solar nasional semakin banyak dipenuhi dari dalam negeri. “Artinya, hampir setengah kebutuhan solar Indonesia kini bisa dipenuhi oleh biodiesel dari sawit, sehingga produksi dalam negeri dapat menutup seluruh kebutuhan nasional,” katanya.
Baca Juga: Sawit, Kunci Pemulihan Ekonomi Pascabencana
Peran ini menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian energi global. Ketegangan geopolitik, termasuk konflik yang melibatkan Iran dan dinamika keamanan di Timur Tengah, berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan produksi biodiesel membuat kebutuhan solar nasional semakin banyak dipenuhi dari dalam negeri. “Artinya, hampir setengah kebutuhan solar Indonesia kini bisa dipenuhi oleh biodiesel dari sawit, sehingga produksi dalam negeri dapat menutup seluruh kebutuhan nasional,” katanya.
Dari 'Tanaman Ajaib' menjadi Kebun Energi
Menurut Fahmi, dalam konteks ketahanan energi, sawit kini tidak hanya dilihat sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga sebagai sumber energi strategis. Ia menggambarkan sawit sebagai kebun energi yang mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan bahan bakar dari luar negeri.Baca Juga: Sawit, Kunci Pemulihan Ekonomi Pascabencana
Peran ini menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian energi global. Ketegangan geopolitik, termasuk konflik yang melibatkan Iran dan dinamika keamanan di Timur Tengah, berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia.
Lihat Juga :