Rupiah Tembus Rp17.000/USD, Tapi Masih Lebih Sakti Dibanding Won Korsel dan Peso Filipina

Senin, 09 Maret 2026 - 22:34 WIB
Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang saat ini lebih merupakan dampak dari shock global yang dialami banyak negara. “Jadi tekanan yang terjadi saat ini lebih mencerminkan shock global yang dialami hampir semua emerging markets, bukan semata persoalan fundamental domestik Indonesia,” tambah David.

Kondisi Makro Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga

Di tengah tekanan terhadap rupiah, indikator makro ekonomi Indonesia masih menunjukkan kondisi yang relatif solid. Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah yang terjadi saat ini belum mencerminkan fundamental ekonomi nasional yang sebenarnya masih kuat.

Beberapa indikator utama menunjukkan stabilitas ekonomi domestik masih terjaga, antara lain inflasi tetap terkendali. Inflasi berada dalam kisaran target 2,5 ± 1% untuk periode 2026-2027. Kemudian soal pertumbuhan kredit perbankan. Pada Januari 2026 kredit perbankan masih tumbuh sekitar 9,96% secara tahunan.

Lalu soal pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada 2025 tercatat sekitar 5,11%, menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap ekspansif.

Dengan sejumlah indikator tersebut, tekanan terhadap rupiah dinilai lebih dipengaruhi dinamika eksternal seperti penguatan dolar AS, sentimen risk-off di pasar global, serta kenaikan harga energi dunia.

"Kondisi ini juga menegaskan bahwa secara fundamental, ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang cukup baik menghadapi gejolak global," pungkas David.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!