Rupiah Ambruk Sempat Sentuh Rp17.000 per Dolar AS, Begini Kondisi Terbarunya
Senin, 16 Maret 2026 - 16:10 WIB
Ibrahim menyoroti memanasnya situasi di Selat Hormuz, terutama setelah adanya pergerakan pasukan mariner Amerika Serikat yang mengindikasikan potensi serangan darat. Konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel ini diperparah dengan ultimatum bernilai miliaran dolar dari pihak Donald Trump untuk pemimpin baru Iran.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dunia yang diprediksi bisa menyentuh level USD130 per barel, meski lembaga internasional seperti IAEA mencoba melakukan intervensi pasokan.
"Kita melihat bahwa dengan kenaikan harga minyak mentah yang sudah di atas 100 dolar per barrel, ada kemungkinan besar ini akan berdampak terhadap inflasi. Dengan inflasi ini kemungkinan besar Bank Central Amerika masih akan pertahankan suku bunga dan juga bisa menaikkan suku bunga melihat kondisi yang ada," jelas Ibrahim dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).
Dari sisi domestik, pasar merespons negatif perdebatan mengenai pelebaran defisit anggaran. Kenaikan harga minyak di atas USD92 per barel telah menekan fiskal, sementara pemerintah tengah dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga defisit di bawah 3 persen atau membiayai program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.000/USD, Tapi Masih Lebih Sakti Dibanding Won Korsel dan Peso Filipina
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dunia yang diprediksi bisa menyentuh level USD130 per barel, meski lembaga internasional seperti IAEA mencoba melakukan intervensi pasokan.
"Kita melihat bahwa dengan kenaikan harga minyak mentah yang sudah di atas 100 dolar per barrel, ada kemungkinan besar ini akan berdampak terhadap inflasi. Dengan inflasi ini kemungkinan besar Bank Central Amerika masih akan pertahankan suku bunga dan juga bisa menaikkan suku bunga melihat kondisi yang ada," jelas Ibrahim dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).
Dari sisi domestik, pasar merespons negatif perdebatan mengenai pelebaran defisit anggaran. Kenaikan harga minyak di atas USD92 per barel telah menekan fiskal, sementara pemerintah tengah dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga defisit di bawah 3 persen atau membiayai program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.000/USD, Tapi Masih Lebih Sakti Dibanding Won Korsel dan Peso Filipina
Lihat Juga :