Rupiah Diramal Tembus Rp20.000 per Dolar AS, Ekonom Wanti-wanti Krisis
Senin, 23 Maret 2026 - 18:57 WIB
Berikut 3 episode tekanan besar mata uang Garuda, ketika Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai rentan dan berpotensi melemah hingga menembus Rp20.400 per dolar AS (USD) dalam beberapa bulan ke depan. Foto/Dok
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai berada dalam kondisi rentan dan berpotensi melemah hingga menembus Rp20.400 per dolar AS (USD) dalam beberapa bulan ke depan. Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan menilai pelemahan tersebut bukan sekadar kemungkinan spekulatif, melainkan didasarkan pada pola historis tekanan terhadap rupiah dalam satu dekade terakhir.
Anthony mengatakan narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat karena ditopang cadangan devisa besar tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental yang sebenarnya. Menurutnya, sektor fiskal, moneter, dan nilai tukar Indonesia masih rapuh serta sangat sensitif terhadap guncangan eksternal, terutama dinamika geopolitik global.
"Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik. Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global beserta turunannya, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia," jelas Anthony dalam keterangannya pada Senin (23/3/2026).
Baca Juga: BI Siaga Menjaga Stabilitas Rupiah Sepanjang Libur Lebaran 2026
Ia menilai, cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Anthony mengatakan, utang luar negeri tidak digunakan untuk kegiatan produktif, tetapi untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi.
Anthony mengatakan narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat karena ditopang cadangan devisa besar tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental yang sebenarnya. Menurutnya, sektor fiskal, moneter, dan nilai tukar Indonesia masih rapuh serta sangat sensitif terhadap guncangan eksternal, terutama dinamika geopolitik global.
"Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik. Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global beserta turunannya, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia," jelas Anthony dalam keterangannya pada Senin (23/3/2026).
Baca Juga: BI Siaga Menjaga Stabilitas Rupiah Sepanjang Libur Lebaran 2026
Ia menilai, cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Anthony mengatakan, utang luar negeri tidak digunakan untuk kegiatan produktif, tetapi untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi.
Lihat Juga :