Menguak Transaksi Gelap Minyak Rp9,7 Triliun Sebelum Tweet Trump Soal Iran
Rabu, 25 Maret 2026 - 09:31 WIB
Kecurigaan pasar bukan tanpa alasan. Pola transaksi yang "tepat waktu" ini mencerminkan beberapa kejadian serupa dalam beberapa bulan terakhir. Taruhan besar dan sangat menguntungkan sebelumnya juga tercatat di platform prediksi seperti Polymarket sesaat sebelum aksi militer AS yang melibatkan Iran dan Venezuela.
Tim Skirrow, kepala derivatif di Energy Aspects, mengakui bahwa volume perdagangan pada jam tersebut jauh lebih besar dari biasanya. Meskipun sulit membuktikan hubungan kausalitas secara hukum, para pialang di AS mempertanyakan siapa yang berani bertindak agresif menjual, tepat sebelum pengumuman besar tersebut.
"Gedung Putih tidak mentoleransi pejabat administrasi manapun yang mengambil keuntungan secara ilegal dari pengetahuan orang dalam. Implikasi bahwa pejabat terlibat dalam aktivitas tersebut tanpa bukti adalah pelaporan yang tidak bertanggung jawab," tegas Desai.
Tim Skirrow, kepala derivatif di Energy Aspects, mengakui bahwa volume perdagangan pada jam tersebut jauh lebih besar dari biasanya. Meskipun sulit membuktikan hubungan kausalitas secara hukum, para pialang di AS mempertanyakan siapa yang berani bertindak agresif menjual, tepat sebelum pengumuman besar tersebut.
Tuduhan Tak Berdasar
Menanggapi isu panas ini, juru bicara Gedung Putih, Kush Desai membantah keras adanya keterlibatan pejabat pemerintah dalam membocorkan informasi untuk keuntungan pribadi."Gedung Putih tidak mentoleransi pejabat administrasi manapun yang mengambil keuntungan secara ilegal dari pengetahuan orang dalam. Implikasi bahwa pejabat terlibat dalam aktivitas tersebut tanpa bukti adalah pelaporan yang tidak bertanggung jawab," tegas Desai.
Dampak Bagi Ekonomi Asia
Volatilitas ekstrem ini menjadi lampu kuning bagi ekonomi Asia yang sangat bergantung pada stabilitas jalur energi di Selat Hormuz. Ketidakpastian harga minyak mentah dunia akibat perang informasi dan geopolitik ini diprediksi akan terus menekan nilai tukar mata uang negara berkembang dan membengkakkan biaya impor energi.(akr)
Lihat Juga :