Krisis Selat Hormuz Makin Parah, Lebih dari 40 Negara Terapkan Darurat BBM

Senin, 30 Maret 2026 - 19:28 WIB
S&P Global Ratings memperingatkan bahwa Bangladesh, Pakistan, dan Sri Lanka menghadapi risiko ekonomi tertinggi di kawasan karena ketergantungan berat pada impor energi dan cadangan terbatas. Cadangan minyak Bangladesh diperkirakan hanya bertahan kurang dari satu bulan, sementara hampir setengah pembangkit listriknya bergantung pada gas yang seperempatnya diimpor.

Di Eropa, Slovenia menjadi anggota Uni Eropa (UE) pertama yang melakukan pembatasan bahan bakar, membatasi pengemudi pribadi hingga 50 liter per hari setelah wisata bahan bakar lintas batas dari Austria mengosongkan pompa bensin. Mesir memerintahkan semua toko, restoran, dan kafe tutup paling lambat pukul 21.00 mulai 28 Maret, karena tagihan energi bulanannya melonjak dari USD1,2 miliar pada Januari menjadi USD2,5 miliar pada Maret.

Baca Juga: Siapa Alireza Tangsiri? Kepala Angkatan Laut Iran di Balik Blokade Hormuz

Australia melepaskan 20% cadangan bahan bakarnya dan menurunkan standar kualitas diesel untuk meningkatkan pasokan, sementara dua negara bagian, Victoria dan Tasmania, mengumumkan transportasi umum gratis untuk meringankan tekanan biaya hidup di SPBU. Thailand memerintahkan pegawai negeri bekerja dari rumah dan menghentikan ekspor bahan bakar ke sebagian besar negara tetangga.

Perkiraan PBB menunjukkan harga minyak naik sekitar 45% dan harga gas 55% sejak akhir Februari, dengan inflasi regional di Asia diproyeksikan naik menjadi 4,6% pada 2026. Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz anjlok lebih dari 90% sejak Iran menyatakan perairan tersebut ditutup pada 2 Maret dan setidaknya 21 serangan terhadap kapal dagang dikonfirmasi hingga pertengahan Maret.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!