Defisit APBN Maret 2026 Tembus Rp240,1 Triliun, 0,93% dari PDB

Senin, 06 April 2026 - 15:00 WIB
Realisasi belanja negara hingga Maret 2026 tercatat mencapai Rp815,0 triliun atau tumbuh 31,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini setara dengan 21,2% dari total pagu APBN, lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis triwulan I yang berada di kisaran 17%.

Menurut dia, percepatan belanja tersebut bertujuan agar dampak ekonomi dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun. “Strategi ini mulai berhasil, harusnya dampak ekonominya lebih bagus,” kata Purbaya.

Baca Juga: Purbaya Blak-blakan, Setiap Kenaikan 1 Dolar Harga Minyak Tambah Defisit Rp6 Triliun

Di sisi pendapatan, negara mengumpulkan Rp574,9 triliun hingga akhir Maret 2026 atau tumbuh 10,5% (yoy). Kinerja ini ditopang oleh penerimaan pajak yang meningkat signifikan sebesar 20,7% (yoy). Purbaya menegaskan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga meskipun defisit melebar pada awal tahun. Pemerintah terus memantau perkembangan pendapatan dan belanja untuk memastikan kesinambungan APBN.

Selain itu, defisit keseimbangan primer tercatat sebesar Rp95,8 triliun pada periode yang sama. Pemerintah menilai angka tersebut masih dalam batas aman dan mencerminkan pengelolaan fiskal yang hati-hati di tengah ketidakpastian global. "Yang jelas kita monitor terus selama setahun akan seperti apa, pendapatannya belanjanya seperti apa, jadi kita amat berhati-hati dalam perhitungan ini," ujar Purbaya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!