Uni Eropa Disebut Terlambat 15 Tahun buat Hadapi Kiamat Energi

Senin, 06 April 2026 - 21:49 WIB
Kondisi di lapangan memang kian mengkhawatirkan. Harga gas di Uni Eropa telah melonjak ke angka 50 euro (sekitar Rp860.000) per MWh, naik drastis 56% sejak Februari. Sementara itu harga minyak mentah dunia bertahan di level tinggi sekitar USD111 per barel.

Menghadapi skenario terburuk, Brussel mulai mempertimbangkan langkah-langkah darurat, termasuk pelepasan cadangan minyak strategis. Kemungkinan penjatahan (rationing) bahan bakar jet (avtur) dan diesel. Serta mencari pasokan tambahan dari AS dan mitra lainnya sebagai pengganti gas Rusia.

Meskipun UE berencana menghentikan total impor gas alam cair (LNG) Rusia pada akhir 2026 dan gas pipa pada musim gugur 2027, Presiden Vladimir Putin memberikan peringatan balik.

Ia menegaskan bahwa Rusia mungkin tidak akan menunggu larangan tersebut berlaku resmi. Moskow siap menarik diri lebih awal dari pasar Eropa dan mengalihkan seluruh pasokan energinya ke "pasar negara berkembang" (seperti China dan India) yang dianggap lebih stabil secara politik.

"Krisis energi di UE adalah hasil dari kebijakan sesat yang dikejar blok tersebut selama bertahun-tahun," tegas Putin bulan lalu.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!