Rupiah Diprediksi Tak Bertaji Pekan Depan di Atas Rp17.000
Minggu, 12 April 2026 - 21:00 WIB
Jika tercapai jeda konflik, harga minyak berpotensi turun sehingga dapat meredam inflasi dan membuka ruang bagi bank sentral AS untuk menurunkan suku bunga. Sebaliknya, kegagalan negosiasi berisiko memicu lonjakan harga minyak akibat gangguan distribusi, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz. "Jika konflik berlanjut dan jalur distribusi minyak terganggu, harga energi akan naik, dolar menguat, dan inflasi meningkat," katanya.
Baca Juga: Rupiah Masih Rapuh, Hari Ini Sentuh Level Rp17.104 per USD
Selain faktor Timur Tengah, ketegangan geopolitik global juga meningkat setelah muncul laporan terkait dukungan persenjataan dari China kepada Iran. Kondisi ini menambah ketidakpastian pasar sekaligus mendorong kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai.
Di sisi lain, tren bank sentral global yang meningkatkan cadangan emas juga dinilai memperkuat permintaan logam mulia. Hal ini mencerminkan upaya mitigasi risiko di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian meningkat.
Baca Juga: Rupiah Masih Rapuh, Hari Ini Sentuh Level Rp17.104 per USD
Selain faktor Timur Tengah, ketegangan geopolitik global juga meningkat setelah muncul laporan terkait dukungan persenjataan dari China kepada Iran. Kondisi ini menambah ketidakpastian pasar sekaligus mendorong kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai.
Di sisi lain, tren bank sentral global yang meningkatkan cadangan emas juga dinilai memperkuat permintaan logam mulia. Hal ini mencerminkan upaya mitigasi risiko di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian meningkat.
(nng)
Lihat Juga :