Bos Bank Dunia Peringatkan Dampak Ngeri Penutupan Selat Hormuz: Ekonomi Global Tak Pulih Instan

Minggu, 19 April 2026 - 13:59 WIB
IMF secara terpisah memangkas perkiraan pertumbuhan global tahun 2026 menjadi 3,1%, turun dari 3,4% yang diproyeksikan pada bulan Januari, dengan menyebut guncangan pasokan akibat konflik.

Kendalikan Inflasi, Hati-hati Jebakan Subsidi

Bos Bank Dunia, Ajay Banga memberikan arahan kebijakan yang sangat tegas bagi para pemimpin negara, termasuk Indonesia. Ia mengatakan inflasi harus menjadi prioritas, bukan pertumbuhan.

"Pastikan Anda mengendalikan inflasi sebelum mulai terlalu khawatir tentang kembali memikirkan sisi pertumbuhan," tegas Banga.

Ia juga memperingatkan soal jebakan subsidi. Banga menekankan, pemerintah agar tidak terjebak dalam pemberian subsidi energi yang tidak berkelanjutan. Langkah gegabah menahan harga BBM melalui subsidi berlebihan justru bisa menciptakan masalah fiskal yang jauh lebih besar di masa depan.

Mengenai pertanyaan apakah gencatan senjata akan menghasilkan sesuatu yang bertahan lama, Banga menjawab dengan tegas. "Pertanyaannya sebenarnya adalah, apakah perdamaian saat ini dan negosiasi yang akan berlangsung akhir pekan ini akan menghasilkan perdamaian yang abadi dan kemudian dibukanya kembali Selat?" katanya.

Jika konflik kembali terjadi, ia memperingatkan dampaknya terhadap infrastruktur energi bisa jadi lebih besar atau bertahan lebih lama daripada yang sudah terjadi.

Pesan bagi Investor dan Pasar

Bagi para investor, pesan Bank Dunia sangat jelas bahwa jangan berekspektasi pada pemulihan instan. Rantai pasok dan inventaris global tidak akan pulih di hari yang sama saat kapal tanker mulai berlayar kembali. Penyesuaian ini akan memakan waktu berbulan-bulan, bukan berminggu-minggu.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!