Program MBG Dinilai Memberikan Dampak Nyata, Ini Data Pendukungnya
Jum'at, 01 Mei 2026 - 19:44 WIB
"Programnya (MBG) terpakai dan ada dampaknya. Dan seperti yang kita tahu, sekarang MBG mulai fokus pada keluarga yang kurang mampu sebagai prioritas penerima karena pada akhirnya yang paling penting bukan perang narasi politiknya. Tapi apakah anak-anak Indonesia benar-benar mendapatkan akses makan bergizi yang lebih baik atau enggak," tambahnya.
Menambahkan pernyataan Alimudin di atas, hasil laporan RISED yang mensurvei orang tua siswa baru-baru ini di tiga kota di Jawa Tengah menyebutkan bahwa lebih dari 80% keluarga berpenghasilan rendah mendukung agar program MBG terus dilanjutkan. Alasan mereka fundamental: rasa tenang karena anaknya dipastikan makan di sekolah. Dengan begitu, mereka tidak lagi cemas. Selain itu, sekitar 8 dari 10 orang tua mengakui bahwa anak-anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi dan jarang melewatkan waktu makan setelah program MBG berjalan di sekolah.
Potret MBG di Wilayah Timur Indonesia
Program MBG di Sumba Barat Daya ikut mengangkat ekonomi warga yang bekerja di dapur MBG. Kristina Lende, setelah enam bulan bekerja sebagai pencuci ompreng di SPPG Watu Kawula, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Kini saya sudah mampu membeli 20–50 kilogram beras, memenuhi kebutuhan sekolah anak, bahkan membeli sepeda motor dari hasil kerja," kisahnya.
Sebelumnya, Kristina hanya mengandalkan penghasilan suami yang bekerja serabutan dan berpenghasilan sekitar Rp50.000 per hari. Dengan penghasilan tersebut, keluarga Kristina kesulitan bahkan hanya untuk membeli beras 1 kilogram.
Menambahkan pernyataan Alimudin di atas, hasil laporan RISED yang mensurvei orang tua siswa baru-baru ini di tiga kota di Jawa Tengah menyebutkan bahwa lebih dari 80% keluarga berpenghasilan rendah mendukung agar program MBG terus dilanjutkan. Alasan mereka fundamental: rasa tenang karena anaknya dipastikan makan di sekolah. Dengan begitu, mereka tidak lagi cemas. Selain itu, sekitar 8 dari 10 orang tua mengakui bahwa anak-anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi dan jarang melewatkan waktu makan setelah program MBG berjalan di sekolah.
Potret MBG di Wilayah Timur Indonesia
Program MBG di Sumba Barat Daya ikut mengangkat ekonomi warga yang bekerja di dapur MBG. Kristina Lende, setelah enam bulan bekerja sebagai pencuci ompreng di SPPG Watu Kawula, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Kini saya sudah mampu membeli 20–50 kilogram beras, memenuhi kebutuhan sekolah anak, bahkan membeli sepeda motor dari hasil kerja," kisahnya.
Sebelumnya, Kristina hanya mengandalkan penghasilan suami yang bekerja serabutan dan berpenghasilan sekitar Rp50.000 per hari. Dengan penghasilan tersebut, keluarga Kristina kesulitan bahkan hanya untuk membeli beras 1 kilogram.
Lihat Juga :