Harga Energi Global Melonjak Tajam, BBM LPG dan LNG Alami Tren Kenaikan

Senin, 11 Mei 2026 - 16:10 WIB
Begitu juga untuk BBM non-subsidi di dalam negeri. Indonesia telah memulai proses adaptasi tersebut melalui mekanisme penyesuaian harga BBM non subsidi pada Mei 2026 yang mengikuti dinamika pasar dan biaya energi global. Terutama pada solar industri non subsidi yang mengalami kenaikan signifikan sekitar 77–84%, dari sekitar USD 22,7 per MMBtu menjadi sekitar USD 43 per MMBtu pada Mei 2026. Dalam rupiah, harga solar industri meningkat dari kisaran Rp14.200–14.500 per liter menjadi sekitar Rp26.000–27.900 per liter.

Merujuk data sejumlah lembaga energi internasional, harga energi regional diperkirakan dapat meningkat signifikan apabila terjadi gangguan distribusi atau eskalasi konflik global. Kondisi tersebut membuat banyak negara mulai memperkuat strategi ketahanan energinya melalui diversifikasi sumber energi, penguatan infrastruktur, serta penyesuaian kebijakan energi domestik. ”Faktor non-fundamental ini sulit diprediksi akan sampai kapan dan berakhirnya seperti apa,” imbuhnya.

Maka, lanjut Komaidi, penyesuaian harga memang perlu dilakukan dan mayoritas negara telah merealisasikannya di negara masing-masing. Bukan hanya BBM dan LPG, tetapi juga LNG. Apalagi, sepanjang 2026, pasar energi Asia diperkirakan masih menghadapi volatilitas tinggi.

Fenomena itu tidak hanya terjadi di negara maju. Negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Filipina, dan Singapura juga mulai melakukan penyesuaian strategi energi untuk menjaga keberlanjutan energi domestik.

Vietnam misalnya, kini semakin bergantung pada pasokan LNG dengan harga yang mengikuti pasar spot Asia. Berdasarkan data PetroVietnam dan IEEFA 2026, harga gas di Vietnam telah mencapai sekitar USD 27,81 per MMBtu.

Sementara di Filipina, harga LNG tercatat mencapai sekitar USD 28,50 per MMBtu berdasarkan data S&P Global dan Shell FGEN 2026. Adapun Singapura sebagai hub LNG regional mencatat harga yang jauh lebih tinggi. Untuk sektor bulk industri, harga gas mencapai sekitar USD 40,12 per MMBtu. Sedangkan pada sektor retail umum, harga gas Singapura mencapai sekitar USD 47,54 per MMBtu.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tren kenaikan harga energi terjadi secara luas di kawasan ASEAN, termasuk pada negara-negara berkembang yang kini semakin bergantung pada pasokan LNG dan dinamika pasar energi global.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!