Pede Rupiah Menguat Mulai Juli 2026, Gubernur BI Ungkap Penyebab Mata Uang Garuda Kolaps

Rabu, 20 Mei 2026 - 21:25 WIB
Ia menerangkan, mulai dari proteksionisme tarif dagang global, ketegangan militer di Timur Tengah, lonjakan harga komoditas energi, hingga kebijakan moneter restriktif dari bank-bank sentral utama dunia, terutama bank sentral AS (The Fed).

"Dengan harga minyak yang tinggi, pertumbuhan yang global yang menurun, inflasi global yang naik, arah suku bunga moneter di berbagai negara yang cenderung ketat termasuk Fed Fund Rate, suku bunga Yield, US Treasury yang meningkat tinggi dan dolar yang menguat. Itu faktor yang memberikan tekanan kepada pelemahan nilai tukar di hampir seluruh dunia termasuk rupiah," ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Selain dinamika eksternal, Perry tidak menampik adanya faktor pemicu dari dalam negeri yang turut menekan rupiah sejak memasuki kuartal kedua tahun ini. Tekanan tersebut berasal dari melonjaknya kebutuhan valuta asing (valas) domestik yang bersifat siklikal atau musiman sepanjang bulan April hingga Juni.

Lonjakan permintaan dolar AS di pasar dalam negeri tersebut didominasi oleh penyerapan dana untuk keperluan ibadah haji dan umrah, kewajiban pelunasan utang luar negeri korporasi yang jatuh tempo, serta jadwal remitansi atau pembagian dividen tahunan perusahaan kepada investor asing.

Baca Juga: Rupiah Ambles Tembus Rp17 Ribu, Perry Warjiyo Blak-blakan Soal Strategi Intervensi BI

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!