Mengulik Strategi Indonesia dalam Mengejar PLTS 100 GW, Apa yang Dibutuhkan?
Sabtu, 30 Mei 2026 - 19:22 WIB
Amputasi Ribuan Pembangkit Diesel (Dedieselisasi)
Program dedieselisasi menjadi salah satu pintu masuk paling strategis untuk mempercepat implementasi PLTS 100 GW. Indonesia masih memiliki ribuan lokasi pembangkit diesel, khususnya di wilayah terpencil dan kepulauan. Dalam RUPTL 2025-2034, PLN mengidentifikasi sekitar 3.996 generator diesel di 1.234 lokasi terpencil dan menargetkan pengurangan pasokan listrik dari PLTD sebesar 80 persen pada 2030.
Namun, proses pengadaan proyek dedieselisasi selama beberapa tahun terakhir belum berjalan optimal. Sayangnya lelang proyek penggantian ini sempat mandek sejak 2022 akibat drama tarif dan belum terbitnya Keputusan Menteri ESDM terkait harga batas atas PLTS hibrida.
Pemerintah dinilai harus mengubah strategi dengan melakukan bundling proyek area kecil berkapasitas besar agar lebih memikat bagi investor kakap.
'Fat Burning' pada Sistem Listrik Raksasa
PLN saat ini masih membakar sekitar 4 juta kiloliter BBM per tahun dengan biaya operasional yang mencekik kas negara. Melalui strategi fat burning, pemerintah bisa menyisipkan kombinasi PLTS dan sistem penyimpanan baterai (BESS) pada jaringan listrik besar guna memotong konsumsi BBM secara drastis dalam jangka pendek.
Listrik Desa Lewat Koperasi Merah Putih
Inovasi sosial dilakukan dengan melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) atau BUMDes sebagai pengelola PLTS desa. Namun, Fabby Tumiwa mewanti-wanti agar model bisnisnya tidak disamaratakan.
Desa dengan modal lemah bisa berperan sebagai pengelola layanan pihak ketiga, sementara desa yang maju dapat bertindak sebagai pemilik aset penuh atau penyedia layanan energi (Energy as a Service/EaaS).
Baca Juga: Maksimalkan Peran Koperasi Hijau untuk Dukung Pengembangan PLTS
Program dedieselisasi menjadi salah satu pintu masuk paling strategis untuk mempercepat implementasi PLTS 100 GW. Indonesia masih memiliki ribuan lokasi pembangkit diesel, khususnya di wilayah terpencil dan kepulauan. Dalam RUPTL 2025-2034, PLN mengidentifikasi sekitar 3.996 generator diesel di 1.234 lokasi terpencil dan menargetkan pengurangan pasokan listrik dari PLTD sebesar 80 persen pada 2030.
Namun, proses pengadaan proyek dedieselisasi selama beberapa tahun terakhir belum berjalan optimal. Sayangnya lelang proyek penggantian ini sempat mandek sejak 2022 akibat drama tarif dan belum terbitnya Keputusan Menteri ESDM terkait harga batas atas PLTS hibrida.
Pemerintah dinilai harus mengubah strategi dengan melakukan bundling proyek area kecil berkapasitas besar agar lebih memikat bagi investor kakap.
'Fat Burning' pada Sistem Listrik Raksasa
PLN saat ini masih membakar sekitar 4 juta kiloliter BBM per tahun dengan biaya operasional yang mencekik kas negara. Melalui strategi fat burning, pemerintah bisa menyisipkan kombinasi PLTS dan sistem penyimpanan baterai (BESS) pada jaringan listrik besar guna memotong konsumsi BBM secara drastis dalam jangka pendek.
Listrik Desa Lewat Koperasi Merah Putih
Inovasi sosial dilakukan dengan melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) atau BUMDes sebagai pengelola PLTS desa. Namun, Fabby Tumiwa mewanti-wanti agar model bisnisnya tidak disamaratakan.
Desa dengan modal lemah bisa berperan sebagai pengelola layanan pihak ketiga, sementara desa yang maju dapat bertindak sebagai pemilik aset penuh atau penyedia layanan energi (Energy as a Service/EaaS).
Baca Juga: Maksimalkan Peran Koperasi Hijau untuk Dukung Pengembangan PLTS
Lihat Juga :