Rupiah Melemah Makin Dalam Diterpa Serangan AS ke Iran, Hari Ini Rp17.966/USD
Rabu, 03 Juni 2026 - 18:24 WIB
Dari sisi domestik, sentimen mata uang garuda memburuk setelah inflasi Mei 2026 mencapai 0,28% secara bulanan (MtM), naik dari posisi April 2026 yang sebesar 0,13% atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Secara tahunan Indonesia mencatatkan inflasi 3,08% secara tahun kalender.
Adapun sejumlah faktor yang dinilai paling memengaruhi pergerakan inflasi Mei 2026 antara lain harga pangan (volatile food), harga energi, harga yang diatur pemerintah (administered prices), serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Kemudian neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatat surplus pada April 2026 sebesar USD89,1 juta. Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus pada April 2026 terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang membukukan surplus sebesar USD3,53 miliar. Namun kalau di lihat secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam.
Menjadi sorotan tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat pasokan global yang tersendat akibat selat hormuz di blokade oleh pasukan garda revolusi Iran yang sampai saat ini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.960-Rp18.030 per dolar AS.
Adapun sejumlah faktor yang dinilai paling memengaruhi pergerakan inflasi Mei 2026 antara lain harga pangan (volatile food), harga energi, harga yang diatur pemerintah (administered prices), serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Kemudian neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatat surplus pada April 2026 sebesar USD89,1 juta. Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus pada April 2026 terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang membukukan surplus sebesar USD3,53 miliar. Namun kalau di lihat secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam.
Menjadi sorotan tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat pasokan global yang tersendat akibat selat hormuz di blokade oleh pasukan garda revolusi Iran yang sampai saat ini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.960-Rp18.030 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :