Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 - 22:08 WIB
"Nilai tukar memang bisa melemahkan perekonomian nasional, terutama dari sisi impor yang lebih mahal, yang akan menekan industri-industri yang banyak bergantung pada bahan baku impor, seperti industri farmasi, industri kimia, bahkan ini juga elektronika, otomotif, dan lain-lain," ujar Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, Kamis (4/6/2026).

Di sisi lain, Faisal mencatat adanya celah keuntungan bagi sektor ekspor yang produknya menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar global dibandingkan negara lain yang mata uangnya tidak terdepresiasi separah rupiah, seperti Ringgit Malaysia. Kendati demikian, keuntungan ekspor tersebut harus dibayar mahal oleh penurunan kesejahteraan konsumen domestik.

Pelemahan ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha berskala besar, tetapi juga berdampak langsung pada kantong masyarakat luas. Konsumen kini harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan berbagai produk berbasis bahan baku luar negeri.

"Jangan lupa importir ini bukan hanya di industri ya, tapi juga konsumen yang menikmati bahan-bahan atau barang-barang impor. Jadi harganya lebih mahal, sehingga kemampuan membelinya juga turun, atau kalau memang mereka harus membeli, mereka membiayai dengan biaya lebih tinggi," tambah Faisal.

Baca Juga: Terjepit Dua Tekanan Besar, Industri Manufaktur Indonesia Mendekati Batas Stagnasi

Melihat perkembangan terbaru, Faisal memprediksi rupiah akan sulit kembali ke level psikologis Rp16.000 jika ketidakpastian kebijakan ekonomi domestik tidak segera dibenahi. Meski institusi makroekonomi saat ini dianggap jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis moneter 1997/1998, buruknya tata kelola kebijakan ekonomi dalam beberapa pekan terakhir tetap menjadi alarm yang perlu diwaspadai.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!