Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
Kamis, 04 Juni 2026 - 22:25 WIB
Menghadapi tantangan mata uang, Neeraj mengungkapkan, bahwa pelemahan nilai tukar rupiah berimbas langsung pada biaya impor bahan baku perseroan. Namun Unilever Indonesia telah menyiapkan bantalan finansial berupa kinerja ekspor serta penerapan strategi lindung nilai (hedging) untuk meminimalkan dampak devaluasi rupiah.
"Sekarang jika menyangkut mata uang, hal itu memang menimbulkan tekanan karena kami memiliki eksposur mata uang pada bahan baku yang kami beli. Kami juga memiliki penjualan ekspor yang membantu kami mengimbangi sebagian dari dampak tersebut. Selain itu, kami menerapkan strategi lindung nilai (hedging) yang membantu kami meredam sebagian dari penurunan nilai rupiah yang kami hadapi,” ungkap Neeraj.
Secara keseluruhan, manajemen menerapkan respons yang komprehensif agar perseroan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan volume penjualan sekaligus menjaga margin keuntungan yang sehat di tengah ketidakpastian.
"Kita mengambil respons yang sangat komprehensif untuk mengatasi tekanan inflasi, yang mencakup penetapan harga yang terkalibrasi, yang mencakup disiplin biaya, yang mencakup optimalisasi investasi, sehingga kita memiliki respons kompetitif yang baik dalam hal bagaimana kita menangani dan mengelola inflasi, sehingga kita tetap fokus pada memberikan pertumbuhan di atas pasar dan peningkatan margin yang moderat," jelasnya.
Sementara itu, Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap menegaskan, bahwa rencana ekspansi perusahaan di pasar domestik akan tetap berjalan secara konsisten dengan fokus utama mendorong pertumbuhan berbasis volume (volume-led growth). Strategi ini bakal dieksekusi melalui inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen serta penguatan jaringan pasar.
Baca Juga: Unilever Indonesia Catatkan Laba Bersih Rp2,2 Triliun di Semester I-2025
"Sekarang jika menyangkut mata uang, hal itu memang menimbulkan tekanan karena kami memiliki eksposur mata uang pada bahan baku yang kami beli. Kami juga memiliki penjualan ekspor yang membantu kami mengimbangi sebagian dari dampak tersebut. Selain itu, kami menerapkan strategi lindung nilai (hedging) yang membantu kami meredam sebagian dari penurunan nilai rupiah yang kami hadapi,” ungkap Neeraj.
Secara keseluruhan, manajemen menerapkan respons yang komprehensif agar perseroan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan volume penjualan sekaligus menjaga margin keuntungan yang sehat di tengah ketidakpastian.
"Kita mengambil respons yang sangat komprehensif untuk mengatasi tekanan inflasi, yang mencakup penetapan harga yang terkalibrasi, yang mencakup disiplin biaya, yang mencakup optimalisasi investasi, sehingga kita memiliki respons kompetitif yang baik dalam hal bagaimana kita menangani dan mengelola inflasi, sehingga kita tetap fokus pada memberikan pertumbuhan di atas pasar dan peningkatan margin yang moderat," jelasnya.
Sementara itu, Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap menegaskan, bahwa rencana ekspansi perusahaan di pasar domestik akan tetap berjalan secara konsisten dengan fokus utama mendorong pertumbuhan berbasis volume (volume-led growth). Strategi ini bakal dieksekusi melalui inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen serta penguatan jaringan pasar.
Baca Juga: Unilever Indonesia Catatkan Laba Bersih Rp2,2 Triliun di Semester I-2025
Lihat Juga :