Panel Energi SPIEF 2026 Bahas Prospek Harga Minyak Tahun Depan, Bakal Tembus USD170 per Barel?
Rabu, 10 Juni 2026 - 18:34 WIB
Namun menurut Igor Sechin, para penyusun proposal sanksi baru perlu memahami bahwa dari 7 juta barel yang disebutkan tersebut, Rusia tetap akan mempertahankan sebagian besar ekspornya.
“Dan kecil kemungkinan rencana mereka akan terlaksana seperti yang mereka inginkan. Level harga yang lebih tinggi akan mengimbangi penurunan volume yang terkena sanksi. Jadi, mungkin mereka sebaiknya tidak mengulangi kesalahan yang sama, karena langkah tersebut bisa saja berbalik merugikan mereka,” kata Sechin.
“Ada banyak risiko. Dan mengingat keputusan politik mulai membentuk indikator fundamental, segala kemungkinan dapat terjadi. Namun, kami siap menghadapi hal tersebut. Saya pikir kami akan mampu mengimbangi sebagian besar pembatasan yang mungkin diberlakukan. Pada saat yang sama, berapa harga bahan bakar di SPBU California nantinya? Itu juga perlu dipertimbangkan,” ujarnya menutup jawaban atas pertanyaan tersebut.
Sementara itu, mantan Kepala IEA dan pakar energi Nobuo Tanaka menyampaikan bahwa akibat kekurangan pasokan, harga minyak kemungkinan akan sangat tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
“Saya pikir harganya dapat mencapai level historis, yaitu lebih dari USD170 per barel, bahkan lebih tinggi, sebelum akhirnya mulai turun. Ini adalah situasi yang sangat, sangat serius. Dan saya percaya Rusia akan menjadi pemain yang sangat penting dalam konteks peningkatan pasokan,” kata Tanaka.
Dalam tanggapannya, Menteri Energi Uzbekistan Jorabek Mirzamahmudov menekankan perlunya membentuk lingkungan pasar yang stabil. Menjawab pertanyaan terkait, ia tidak menutup kemungkinan harga minyak kembali ke level US$60 per barel di masa mendatang.
David Gadzhimirzaev juga menyoroti sulitnya memprediksi harga minyak secara pasti. Menurutnya, bank-bank terbesar di dunia, dengan mempertimbangkan krisis di Timur Tengah, memperkirakan harga berada di kisaran USD78 hingga USD90 per barel.
Sementara itu, jika memperhitungkan berbagai guncangan lain, proyeksi harga berada di kisaran USD60–70 per barel. Pada saat yang sama, ia menekankan bahwa harga sebaiknya tidak turun di bawah USD60 per barel.
“Dan kecil kemungkinan rencana mereka akan terlaksana seperti yang mereka inginkan. Level harga yang lebih tinggi akan mengimbangi penurunan volume yang terkena sanksi. Jadi, mungkin mereka sebaiknya tidak mengulangi kesalahan yang sama, karena langkah tersebut bisa saja berbalik merugikan mereka,” kata Sechin.
“Ada banyak risiko. Dan mengingat keputusan politik mulai membentuk indikator fundamental, segala kemungkinan dapat terjadi. Namun, kami siap menghadapi hal tersebut. Saya pikir kami akan mampu mengimbangi sebagian besar pembatasan yang mungkin diberlakukan. Pada saat yang sama, berapa harga bahan bakar di SPBU California nantinya? Itu juga perlu dipertimbangkan,” ujarnya menutup jawaban atas pertanyaan tersebut.
Sementara itu, mantan Kepala IEA dan pakar energi Nobuo Tanaka menyampaikan bahwa akibat kekurangan pasokan, harga minyak kemungkinan akan sangat tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
“Saya pikir harganya dapat mencapai level historis, yaitu lebih dari USD170 per barel, bahkan lebih tinggi, sebelum akhirnya mulai turun. Ini adalah situasi yang sangat, sangat serius. Dan saya percaya Rusia akan menjadi pemain yang sangat penting dalam konteks peningkatan pasokan,” kata Tanaka.
Dalam tanggapannya, Menteri Energi Uzbekistan Jorabek Mirzamahmudov menekankan perlunya membentuk lingkungan pasar yang stabil. Menjawab pertanyaan terkait, ia tidak menutup kemungkinan harga minyak kembali ke level US$60 per barel di masa mendatang.
David Gadzhimirzaev juga menyoroti sulitnya memprediksi harga minyak secara pasti. Menurutnya, bank-bank terbesar di dunia, dengan mempertimbangkan krisis di Timur Tengah, memperkirakan harga berada di kisaran USD78 hingga USD90 per barel.
Sementara itu, jika memperhitungkan berbagai guncangan lain, proyeksi harga berada di kisaran USD60–70 per barel. Pada saat yang sama, ia menekankan bahwa harga sebaiknya tidak turun di bawah USD60 per barel.
(akr)
Lihat Juga :