Babak Baru Perang Energi: OPEC+ Siap Banjiri Pasar Global, Siap-siap Harga Minyak Makin Ambles
Senin, 06 Juli 2026 - 06:01 WIB
Kini,angin segar mulai berembus. Data internal OPEC menunjukkan produksi sempat jatuh bebas ke angka 33,13 juta bpd pada Mei, turun drastis dari 42,77 juta bpd pada Februari. Berkat jalur logistik alternatif dan upaya pemulihan ekspor yang dibantu Amerika Serikat, angka produksi mulai bangkit pada Juni 2026, meski belum sepenuhnya kembali ke level sebelum konflik.
Baca Juga: Hancurkan Dominasi Arab Saudi! Ini Alasan Tersembunyi UEA Keluar dari OPEC
Selain karena mulai pulihnya lalu lintas Selat Hormuz, merosotnya harga minyak dunia dipicu oleh tiga faktor utama. Pertama yakni, adanya penurunan impor China saat permintaan dari raksasa ekonomi Asia ini melandai.
Selanjutnya ada lonjakan ekspor dari produsen di luar kawasan konflik atau Non-Timur Tengah. Terakhir, karena lonjakan ekspor dari produsen di luar kawasan konflik. Ada tindakan rilis cadangan strategis, seiring langkah terkoordinasi dari International Energy Agency (IEA) yang menggelontorkan cadangan minyak global ke pasar secara masif.
"Fokus jangka pendek pasar sekarang adalah melihat seberapa cepat kapal tanker bisa melewati Selat Hormuz dengan aman, serta seberapa cepat pemulihan permintaan dari China," ujar Analis komoditas dari UBS, Giovanni Staunovo.
Di sisi lain, adanya Nota Kesepahaman (MoU) awal antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri ketegangan bersenjata menjadi katalis kuat yang meyakinkan para pelaku pasar bahwa pasokan energi global akan segera normal kembali.
Harga Minyak Anjlok ke Level USD72 per Barel: Apa Pemicunya?
Pasar saat ini sedang dipenuhi sentimen bearish (melemah). Harga minyak mentah jenis Brent terpantau ambles ke kisaran USD72 per barel pada akhir pekan lalu. Angka ini turun tajam dari puncaknya yang sempat menembus USD120 per barel saat konflik pertama kali pecah pada 28 Februari lalu.Baca Juga: Hancurkan Dominasi Arab Saudi! Ini Alasan Tersembunyi UEA Keluar dari OPEC
Selain karena mulai pulihnya lalu lintas Selat Hormuz, merosotnya harga minyak dunia dipicu oleh tiga faktor utama. Pertama yakni, adanya penurunan impor China saat permintaan dari raksasa ekonomi Asia ini melandai.
Selanjutnya ada lonjakan ekspor dari produsen di luar kawasan konflik atau Non-Timur Tengah. Terakhir, karena lonjakan ekspor dari produsen di luar kawasan konflik. Ada tindakan rilis cadangan strategis, seiring langkah terkoordinasi dari International Energy Agency (IEA) yang menggelontorkan cadangan minyak global ke pasar secara masif.
"Fokus jangka pendek pasar sekarang adalah melihat seberapa cepat kapal tanker bisa melewati Selat Hormuz dengan aman, serta seberapa cepat pemulihan permintaan dari China," ujar Analis komoditas dari UBS, Giovanni Staunovo.
Di sisi lain, adanya Nota Kesepahaman (MoU) awal antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri ketegangan bersenjata menjadi katalis kuat yang meyakinkan para pelaku pasar bahwa pasokan energi global akan segera normal kembali.
Lihat Juga :