Ketimpangan Makin Lebar, 1,5% Populasi Menguasai hampir 50 Persen Total Kekayaan Dunia

Senin, 06 Juli 2026 - 11:17 WIB

AI dan Teknologi Masa Depan: Ancaman Baru atau Peluang?

Selain inflasi, kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) yang terus mengguncang berbagai sektor industri kian memperlebar kecemasan publik. Bukan hanya AI, laporan tersebut juga menyoroti lompatan teknologi lain yang sedang mengintai lanskap ekonomi masa depan.

Contohnya yakni fusi nuklir (Energi bersih masa depan), teknologi mRNA (Revolusi medis), hingg Sains Biologi Longevitas (Teknologi memperpanjang usia)

"Teknologi-teknologi ini memang belum sepenuhnya hadir massal, tetapi mereka sedang menuju ke sini, dan tidak ada yang bisa menghentikannya," ujar Joel Mokyr, Profesor Ekonomi dan Sejarah di Northwestern University.

"Begitu mereka tiba, dampaknya terhadap masyarakat dan perekonomian bisa sama atau bahkan lebih masif daripada AI," bebernya

Sisi Terang Lahirnya Jutawan Baru

Meski jurang ketimpangan melebar, laporan UBS ini membawa sedikit angin segar bagi mobilitas vertikal global. Kabar baiknya, persentase penduduk dunia yang berada di kelompok kekayaan paling bawah (memiliki aset di bawah USD10.000) terus menyusut. Pada tahun 2000, hampir 75% populasi dunia berada di kategori ini. Kini, angka tersebut berkurang signifikan menjadi 41%.

Selain itu bagi mereka yang berhasil memanfaatkan momentum ekonomi global, peluang naik kelas menjadi miliarder baru tetap terbuka lebar. Sebagai gambaran, sepanjang tahun lalu saja, AS sukses mencetak lebih dari 1.200 jutawan ( miliarder dalam kurs rupiah) baru setiap harinya.

Apakah Anda akan menjadi salah satu yang ikut tergilas oleh pergeseran teknologi ekonomi ini, atau justru berhasil melompat ke kelompok atas?.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!