Pengusaha Buka Suara soal Pabrik Otomotif Jepang Kabur dari RI ke Vietnam

Selasa, 07 Juli 2026 - 15:09 WIB


Shinta menjelaskan bahwa proses perampingan jumlah pabrik operasional oleh korporasi global merupakan bagian dari efisiensi pasar yang lumrah terjadi. Kendati pola konsolidasi global tersebut tengah berlangsung, ia optimis Indonesia masih memiliki posisi tawar yang cukup kuat untuk mempertahankan basis produksi manufaktur otomotif yang sudah eksis di dalam negeri agar tidak hengkang sepenuhnya.

Langkah penyehatan struktur bisnis oleh perusahaan global tersebut dinilai wajar terjadi di tengah ketatnya persaingan investasi di tingkat regional. Indonesia kini dituntut untuk segera membenahi berbagai hambatan birokrasi agar daya tarik investasi domestik tidak semakin tertinggal dari negara tetangga.

"Kedua, kalau dari segi daya tarik, ini mungkin menjadi pekerjaan rumah. Karena World Bank juga sudah memberikan survey perbandingan Indonesia dengan negara lain dari segi investasi. Jadi kesiapan perizinan, regulasi, dan lain-lain, juga menjadi catatan. Memang Vietnam, mungkin karena negaranya juga lebih kecil, bisa mempermudah investor untuk masuk ke sana," papar Shinta.

Untuk mengejar ketertinggalan regulasi dan perizinan tersebut, Apindo bergerak aktif menyusun langkah konkret sebagai solusi jangka panjang. Saat ini, organisasi pengusaha tersebut sedang menginisiasi sebuah proyek percontohan program industrialisasi nasional dengan menggandeng Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) serta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Wilayah Jawa Tengah sengaja dipilih sebagai pusat percontohan karena memiliki konsentrasi kawasan ekonomi yang sangat bervariasi dan potensial untuk dikembangkan. Baca Juga: Soal Pabrik Isuzu Thailand Pindah ke Indonesia, Menperin Beri Klarifikasi
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!