Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
Selasa, 14 Juli 2026 - 20:33 WIB
PT Kimia Farma Tbk (KAEF) memperkuat komitmennya mendukung target eliminasi tuberkulosis (TB) pada 2030. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - PT Kimia Farma Tbk (KAEF) memperkuat komitmennya mendukung target eliminasi tuberkulosis (TB) pada 2030 melalui layanan kesehatan yang terintegrasi, mulai dari produksi obat, distribusi, diagnostik, hingga pelayanan kesehatan. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung agenda prioritas pemerintah dalam mempercepat penanggulangan TB sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional.
"KAEF memiliki ekosistem terintegrasi end-to-end dari produksi, distribusi, hingga layanan kesehatan untuk mendukung kesehatan nasional, termasuk eliminasi TB di tahun 2030," kata Direktur Komersial KAEF Hanadi Setiarto saat menghadiri Forum Nasional TB 2026: National Policy and Implementation of the TB Program dikutip pada Selasa (14/7/2026).
Baca Juga: BPOM Terbitkan Aturan Baru Iklan Obat, Influencer Dilarang Promosi
Pemerintah menempatkan eliminasi TB sebagai salah satu prioritas pembangunan kesehatan. Berdasarkan Global TB Report 2024 dan data Kementerian Kesehatan 2025, Indonesia masih menjadi negara dengan beban TB tertinggi kedua di dunia setelah India, dengan estimasi sekitar 1,09 juta kasus dan sekitar 125.000 kematian setiap tahun. Sementara pada 2024, sebanyak 885.000 kasus TB telah ditemukan dan dilaporkan.
Untuk mendukung penanganan penyakit tersebut, Kimia Farma memiliki portofolio obat TB yang mencakup terapi untuk TB sensitif obat maupun TB resisten obat. Perseroan juga telah mengembangkan sejumlah sediaan dalam bentuk Fixed Dose Combination (FDC) bagi pasien dewasa dan anak-anak, serta mulai memproduksi antibiotik Moxifloxacin sejak 2025 sebagai bagian dari inovasi terapi TB.
Di sektor hulu, Kimia Farma didukung fasilitas produksi modern di Jakarta dan Banjaran dengan kapasitas lebih dari 500 juta tablet per tahun. Kapasitas tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga ketersediaan pasokan obat nasional sekaligus mendukung implementasi regimen pengobatan TB yang lebih efektif pada masa mendatang.
"KAEF memiliki ekosistem terintegrasi end-to-end dari produksi, distribusi, hingga layanan kesehatan untuk mendukung kesehatan nasional, termasuk eliminasi TB di tahun 2030," kata Direktur Komersial KAEF Hanadi Setiarto saat menghadiri Forum Nasional TB 2026: National Policy and Implementation of the TB Program dikutip pada Selasa (14/7/2026).
Baca Juga: BPOM Terbitkan Aturan Baru Iklan Obat, Influencer Dilarang Promosi
Pemerintah menempatkan eliminasi TB sebagai salah satu prioritas pembangunan kesehatan. Berdasarkan Global TB Report 2024 dan data Kementerian Kesehatan 2025, Indonesia masih menjadi negara dengan beban TB tertinggi kedua di dunia setelah India, dengan estimasi sekitar 1,09 juta kasus dan sekitar 125.000 kematian setiap tahun. Sementara pada 2024, sebanyak 885.000 kasus TB telah ditemukan dan dilaporkan.
Untuk mendukung penanganan penyakit tersebut, Kimia Farma memiliki portofolio obat TB yang mencakup terapi untuk TB sensitif obat maupun TB resisten obat. Perseroan juga telah mengembangkan sejumlah sediaan dalam bentuk Fixed Dose Combination (FDC) bagi pasien dewasa dan anak-anak, serta mulai memproduksi antibiotik Moxifloxacin sejak 2025 sebagai bagian dari inovasi terapi TB.
Di sektor hulu, Kimia Farma didukung fasilitas produksi modern di Jakarta dan Banjaran dengan kapasitas lebih dari 500 juta tablet per tahun. Kapasitas tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga ketersediaan pasokan obat nasional sekaligus mendukung implementasi regimen pengobatan TB yang lebih efektif pada masa mendatang.
Lihat Juga :