Jebakan Ilusi PDB, Mantan Menkeu Fuad Bawazier Ungkap Fakta di Balik Utang RI Rp8.000 Triliun
Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:27 WIB
Meskipun nilainya ratusan triliun, utang model lama ini memiliki rekening proyek yang jelas (capital expenditure). Setiap sen pinjaman tercatat peruntukannya untuk membangun jembatan, jalan tol, atau waduk tertentu.
Pergeseran radikal terjadi saat Sri Mulyani Indrawati menjabat sebagai Menteri Keuangan. Indonesia mulai beralih memproduksi utang komersial lewat instrumen SBN. Fuad mengaku sejak awal sudah memperingatkan bahaya instrumen ini yang gampang diperoleh sehingga membuat politisi 'lapar mata'.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.000 Triliun, Purbaya: Masih Aman
Fuad bahkan membongkar rahasia dapur pasar keuangan, di mana lembaga keuangan raksasa global seperti Goldman Sachs, Merrill Lynch, hingga Morgan Stanley gencar melobi pejabat Indonesia kala itu karena melihat rasio utang Indonesia yang masih sangat rendah atau 'perawan'.
"Ibu Sri Mulyani yang memulai (tren SBN) ini, tapi terus terang saja gagal mengakhiri karena utang kita malah naik terus dan sekarang tidak bisa dikendalikan," cetusnya.
Dampak dari SBN ini adalah uangnya masuk ke kantong besar APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) sehingga bercampur dan rentan menguap untuk membiayai belanja rutin seperti gaji pegawai, tunjangan, hingga THR, bukan untuk sektor produktif.
Pergeseran radikal terjadi saat Sri Mulyani Indrawati menjabat sebagai Menteri Keuangan. Indonesia mulai beralih memproduksi utang komersial lewat instrumen SBN. Fuad mengaku sejak awal sudah memperingatkan bahaya instrumen ini yang gampang diperoleh sehingga membuat politisi 'lapar mata'.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.000 Triliun, Purbaya: Masih Aman
Fuad bahkan membongkar rahasia dapur pasar keuangan, di mana lembaga keuangan raksasa global seperti Goldman Sachs, Merrill Lynch, hingga Morgan Stanley gencar melobi pejabat Indonesia kala itu karena melihat rasio utang Indonesia yang masih sangat rendah atau 'perawan'.
"Ibu Sri Mulyani yang memulai (tren SBN) ini, tapi terus terang saja gagal mengakhiri karena utang kita malah naik terus dan sekarang tidak bisa dikendalikan," cetusnya.
Dampak dari SBN ini adalah uangnya masuk ke kantong besar APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) sehingga bercampur dan rentan menguap untuk membiayai belanja rutin seperti gaji pegawai, tunjangan, hingga THR, bukan untuk sektor produktif.
Parameter Aman 60% PDB Disebut Standar Ganda yang Menyesatkan?
Fuad Bawazier meminta pemerintah berhenti menggunakan standar batas aman utang 60% PDB yang diadopsi dari organisasi negara-negara maju (OECD). Menurutnya, struktur ekonomi Indonesia sangat berbeda dengan negara anggota OECD.Lihat Juga :