3 Bulan Berturut-turut Alami Deflasi, Ekonomi RI Terancam Depresi

Jum'at, 02 Oktober 2020 - 09:02 WIB
Peneliti Indef Nailul Huda mengatakan terjadinya inflasi berarti permintaan untuk barang-barang bahan makanan dan minuman yang bergejolak menurun. Menurut dia, hal ini pertanda buruk bagi perekonomian di mana seharusnya permintaan barang makanan bisa mendongkrak konsumsi. (Baca juga: Bantuan Kuota data Diminta Pakai Sistem Akumulasi)

“Bisa jadi ini sebagai pertanda awal dari semakin lemahnya daya beli masyarakat karena sudah tiga bulan terakhir mengalami deflasi ,” cetusnya.

Dia juga meyakini pada kuartal III/2020 ini ekonomi Indonesia sudah pasti resesi. “Kemenkeu juga sudah mastiin, kecuali Presiden berkata yang berbeda ya,” ungkap dia. Dia memperkirakan, jika sampai akhir tahun penangan Covid-19 masih seperti ini, akan terus terjadi deflasi.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,05% pada September 2020 atau sama dengan periode Agustus–Juli yang juga mengalami deflasi. Dengan demikian selama tiga bulan berturut-turut telah terjadi deflasi pada perekonomian nasional, yaitu Juli sebesar 0,10% dan Agustus serta September masing-masing 0,05%.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan dari 90 kota yang di survei Indeks Harga Konsumen (IHK), sebanyak 56 kota mengalami deflasi dan 34 kota mengalami inflasi. Inflasi kalender (Januari–September 2020) mencapai 0,89%, sementara inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 1,42%. (Baca juga: Penggunaan Masekr Kurangi Resiko Tertular Covid-19)

“Perkembangan harga harga komoditas ini menunjukkan adanya penurunan berdasarkan hasil pemantauan BPS deflasi 0,05%,” kata Suhariyanto di Jakarta, kemarin.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!