Stimulus Dunia Usaha Akan Terus Dikucurkan
Rabu, 07 Oktober 2020 - 06:35 WIB
Febrio menegaskan, pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi Covid-19 sangat ditentukan oleh kedisiplinan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan. “Kalau kasusnya bertambah, ekonomi di-PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) lagi. Melambat lagi,” ucapnya.
Pada kesempatan tersebut, Febrio menggambarkan, sebelum pandemi Covid-19 setiap tahun pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 5%. Dengan angka pertumbuhan itu, rata-rata menciptakan 3 juta lapangan pekerjaan baru.
“Setelah pandemi ini, semuanya berubah. Ini bukan sesuatu yang terjadi di Indonesia. Hampir tidak ada negara yang pertumbuhan ekonomi tidak terkontraksi. Mayoritas negara-negara di dunia pertumbuhan ekonominya negatif,” ungkapnya.
Menurutnya, melihat kuartal kedua, ketiga, dan keempat, proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun ini diyakini tidak akan separah negara yang lain. “Yang lain sangat dalam, contohnya India minus 24%,” sebutnya.
BKF mengklaim, pengeluaran pemerintah sudah on the track. Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sampai akhir tahun ini akan mencapai Rp2.739 triliun. Penyerapan anggaran PEN semakin dinilai baik. Dari pagu Rp695 triliun, sudah terpakai Rp315,48 triliun atau 45,4%. (Baca juga: Bentengi Tubuh dari Covid-19 dengan Olahraga)
Dana PEN tersebut, kata dia, digunakan untuk beberapa sektor antara lain kesehatan yang sudah mencapai Rp21,92 triliun; perlindungan sosial Rp157,03 triliun; kementerian/lembaga serta pemda Rp26,61 triliun; insentif usaha Rp28,07 triliun; dan dukungan usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Rp81,85 triliun.
Dia menambahkan, anggaran paling penting dan besar adalah perlindungan sosial, yakni Rp203 triliun. Satu di antaranya digunakan untuk Program Keluarga Harapan (PKH).
“Tingkat akurasi penerimanya juga semakin membaik. Kemenkeu melalui lembaga independen melakukan survei dan pemantauan penyaluran program ini pada Mei, Juni, dan Agustus,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Febrio menggambarkan, sebelum pandemi Covid-19 setiap tahun pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 5%. Dengan angka pertumbuhan itu, rata-rata menciptakan 3 juta lapangan pekerjaan baru.
“Setelah pandemi ini, semuanya berubah. Ini bukan sesuatu yang terjadi di Indonesia. Hampir tidak ada negara yang pertumbuhan ekonomi tidak terkontraksi. Mayoritas negara-negara di dunia pertumbuhan ekonominya negatif,” ungkapnya.
Menurutnya, melihat kuartal kedua, ketiga, dan keempat, proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun ini diyakini tidak akan separah negara yang lain. “Yang lain sangat dalam, contohnya India minus 24%,” sebutnya.
BKF mengklaim, pengeluaran pemerintah sudah on the track. Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sampai akhir tahun ini akan mencapai Rp2.739 triliun. Penyerapan anggaran PEN semakin dinilai baik. Dari pagu Rp695 triliun, sudah terpakai Rp315,48 triliun atau 45,4%. (Baca juga: Bentengi Tubuh dari Covid-19 dengan Olahraga)
Dana PEN tersebut, kata dia, digunakan untuk beberapa sektor antara lain kesehatan yang sudah mencapai Rp21,92 triliun; perlindungan sosial Rp157,03 triliun; kementerian/lembaga serta pemda Rp26,61 triliun; insentif usaha Rp28,07 triliun; dan dukungan usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Rp81,85 triliun.
Dia menambahkan, anggaran paling penting dan besar adalah perlindungan sosial, yakni Rp203 triliun. Satu di antaranya digunakan untuk Program Keluarga Harapan (PKH).
“Tingkat akurasi penerimanya juga semakin membaik. Kemenkeu melalui lembaga independen melakukan survei dan pemantauan penyaluran program ini pada Mei, Juni, dan Agustus,” katanya.
Lihat Juga :