Menakar Peluang dan Tantangan Industri Asuransi di Masa dan Pasca Pandemi
Rabu, 14 Oktober 2020 - 00:10 WIB
Pandemi covid-19 yang melanda 240 negara dan tidak kunjung usai, tentunya juga berdampak pada kondisi ekonomi yang tidak bisa diprediksi ke depannya. Penyelenggaraan kegiatan ekonomi tidak dapat dilakukan secara full capacity. Kegiatan perkantoran harus memperhatikan protokol kesehatan untuk menjaga jarak aman yang ideal antar karyawan untuk mengurangi risiko penyebaran yang terbilang tinggi di ruang tertutup, serta adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
(Baca Juga: Klaim Asuransi Jiwa Covid-19 Tetap Dibayarkan, Terbanyak di DKI Jakarta )
Ketua GPM Sigit Pramono mengatakan kondisi ini memicu penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II menjadi -5,3%. Jika pada triwulan III pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap minus, maka akan terjadi resesi.
Krisis yang terjadi karena pandemi ini awalnya merupakan krisis kesehatan. Kemudian, direspon dengan PSBB, sehingga menimbulkan ekonomi yang setengah berhenti dan diikuti oleh resesi. Jika PSBB yang dilakukan semakin panjang, akan menimbulkan resesi yang semakin dalam, dan bisa menimbulkan depresi. Ketika terjadi depresi, yang paling dikhawatirkan adalah kerusuhan.
Semua proses tersebut disebut spiral maut. “Peran dari kita semua adalah bagaimana kita dapat menyelamatkan ekonomi agar terhindar dari spiral maut tersebut,” ungkap Sigit.
Untuk menghindari hal tersebut, penggunaan masker menjadi salah satu cara paling ampuh dan mudah yang dapat dilakukan saat ini. Berdasarkan studi yang dikeluarkan oleh Travel Medicine and Infectious Disease Volume 36, pada Juli-Agustus 2020, penggunaan masker dapat menurunkan risiko penyebaran covid-19 sebesar 96%.
“Jika gerakan pakai masker ini berhasil, kita semua bisa menyelamatan nyawa, maupun menyelamatkan ekonomi bangsa,” tutup Sigit.
(Baca Juga: Klaim Asuransi Jiwa Covid-19 Tetap Dibayarkan, Terbanyak di DKI Jakarta )
Ketua GPM Sigit Pramono mengatakan kondisi ini memicu penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II menjadi -5,3%. Jika pada triwulan III pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap minus, maka akan terjadi resesi.
Krisis yang terjadi karena pandemi ini awalnya merupakan krisis kesehatan. Kemudian, direspon dengan PSBB, sehingga menimbulkan ekonomi yang setengah berhenti dan diikuti oleh resesi. Jika PSBB yang dilakukan semakin panjang, akan menimbulkan resesi yang semakin dalam, dan bisa menimbulkan depresi. Ketika terjadi depresi, yang paling dikhawatirkan adalah kerusuhan.
Semua proses tersebut disebut spiral maut. “Peran dari kita semua adalah bagaimana kita dapat menyelamatkan ekonomi agar terhindar dari spiral maut tersebut,” ungkap Sigit.
Untuk menghindari hal tersebut, penggunaan masker menjadi salah satu cara paling ampuh dan mudah yang dapat dilakukan saat ini. Berdasarkan studi yang dikeluarkan oleh Travel Medicine and Infectious Disease Volume 36, pada Juli-Agustus 2020, penggunaan masker dapat menurunkan risiko penyebaran covid-19 sebesar 96%.
“Jika gerakan pakai masker ini berhasil, kita semua bisa menyelamatan nyawa, maupun menyelamatkan ekonomi bangsa,” tutup Sigit.
(akr)
Lihat Juga :