Tingginya Harga Hunian di Perumahan
Rabu, 28 Oktober 2020 - 14:15 WIB
Penyebab ketiga, kenapa harga rumah di perumahan lebih tinggi disebabkan oleh biaya-biaya lain yang timbul karena bersifat keharusan. Biaya ini antara lain, biaya pemecahan sertifikat oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN), biaya perizinan atau IMB, biaya notaris, serta biaya koordinasi dengan lingkungan atau aparatur setempat.
Keempat, perbedaan harga disebabkan oleh biaya promosi dan marketing. Dalam kegiatan penjualan, developer diharuskan mengeluarkan budgeting untuk material promosi seperti, brosur, umbul-umbul, spanduk, biaya iklan, atau untuk developer tertentu dilakukan kegiatan pameran. Selain itu, developer juga harus posting dana untuk kebutuhan tenaga-tenaga penjual baik yang bersifat operasional ataupun untuk membayar komisi marketing.
Poin berikutnya, beban biaya yang harus dipikul oleh developer adalah biaya operasional perusahaan. Dalam konteks ini, developer memerlukan dana operasional untuk menunjang berjalannya usaha yang dilakukan. Sebagai contoh, biaya operasional yang harus dikeluarkan seperti biaya gaji karyawan, biaya transportasi, biaya komunikasi, biaya listrik dan air, dan biaya ATK.
Selain biaya-biaya tersebut, yang menyebabkan tingginya harga rumah di perumahan adalah developer diharuskan menghitung keuntungan yang ingin diperoleh dari proyek yang dikelolanya. Keuntungan ini biasanya dihitung dengan hitungan persentase dari harga pokok penjualan. Sebagai contoh, bilamana harga pokok penjualan terhitung Rp400 juta/unit dan developer memiliki target keuntungan 30%, maka harga rumah yang dijual menjadi Rp520 juta/unit. (Lihat videonya: Tolak Omnibus Law, ribuan Buruh Kembali Turun ke Jalan)
Demikian uraian poin-poin penting dalam bentuk anggaran biaya yang menyebabkan harga rumah di perumahan lebih tinggi dibandingkan harga rumah kampung, walaupun dalam kawasan hamparan yang sama hanya terpisah oleh dinding pagar perumahan.
Keempat, perbedaan harga disebabkan oleh biaya promosi dan marketing. Dalam kegiatan penjualan, developer diharuskan mengeluarkan budgeting untuk material promosi seperti, brosur, umbul-umbul, spanduk, biaya iklan, atau untuk developer tertentu dilakukan kegiatan pameran. Selain itu, developer juga harus posting dana untuk kebutuhan tenaga-tenaga penjual baik yang bersifat operasional ataupun untuk membayar komisi marketing.
Poin berikutnya, beban biaya yang harus dipikul oleh developer adalah biaya operasional perusahaan. Dalam konteks ini, developer memerlukan dana operasional untuk menunjang berjalannya usaha yang dilakukan. Sebagai contoh, biaya operasional yang harus dikeluarkan seperti biaya gaji karyawan, biaya transportasi, biaya komunikasi, biaya listrik dan air, dan biaya ATK.
Selain biaya-biaya tersebut, yang menyebabkan tingginya harga rumah di perumahan adalah developer diharuskan menghitung keuntungan yang ingin diperoleh dari proyek yang dikelolanya. Keuntungan ini biasanya dihitung dengan hitungan persentase dari harga pokok penjualan. Sebagai contoh, bilamana harga pokok penjualan terhitung Rp400 juta/unit dan developer memiliki target keuntungan 30%, maka harga rumah yang dijual menjadi Rp520 juta/unit. (Lihat videonya: Tolak Omnibus Law, ribuan Buruh Kembali Turun ke Jalan)
Demikian uraian poin-poin penting dalam bentuk anggaran biaya yang menyebabkan harga rumah di perumahan lebih tinggi dibandingkan harga rumah kampung, walaupun dalam kawasan hamparan yang sama hanya terpisah oleh dinding pagar perumahan.
(ysw)
Lihat Juga :