Menjaga Keberlanjutan Pertanian RI Lewat MoU Duta Petani Milenial-PT Tsamarot
Senin, 09 November 2020 - 19:36 WIB
"Untuk itu, saya mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin ini. Tentu kita berharap ke depan kerja sama ini dapat ditingkatkan terus pada diferensiasi komoditasnya, juga skala dan ruang lingkupnya," harap Dedi.
Dedi memapaparkan, kondisi pertanian Indonesia. Saat ini, ada 33 juta orang yang bergerak di sektor pertanian. Dari jumlah itu, 70 persen di antaranya berusia di atas 40 tahun.
"Hanya 30 persen saja petani yang usianya di bawah 40 tahun. Mereka itulah petani milenial. Sebagian besar petani kita kolotnial. Dalam waktu 10 tahun yang akan datang, mereka akan tidak produktif lagi. Maka, siap tidak siap, kita harus kita genjot pertumbuhan petani milenial. Petani muda harus berkiprah di sektor pertanian," tuturnya.
(Baca Juga: Mentan SYL: Jadi Kenyang Tidak Harus dari Nasi )
Tak dipungkiri, Dedi menyebut saat ini petani milenial yang mampu menggerakkan roda pembangunan pertanian Indonesia. Selain cerdas, Dedi menilai petani milenial juga inovatif. Mereka selalu menemukan cara bagaimana menjual produk pertanian yang bagus dengan produktivitas, kualitas dan kontinuitas yang terus meningkat.
"Mereka juga cukup adaptif dengan teknolog baru. Saat ini, pertnian kita sudah masuk dalam inovasi teknologi 4.0. Ada traktor yang dikemudikan dengan internet dan remote. Di hilirnya lahir berbagai startup yang mendekatkan produsen dan konsumen," jelasnya.
CEO PT Tsamarot Indonesia, Muhammad Ilham Syafaat dalam keterangan, berharap tak hanya perusahaannya yang akan mendapatkan benefit atas MoU yang ditandatangani ini, tetapi juga petani milenial dan terlebih petani serta pertanian Indonesia secara keseluruhan. Ia berharap kerja sama ini dapat meningkatkan keberlangsungan petani dan pertanian Indonesia.
Dedi memapaparkan, kondisi pertanian Indonesia. Saat ini, ada 33 juta orang yang bergerak di sektor pertanian. Dari jumlah itu, 70 persen di antaranya berusia di atas 40 tahun.
"Hanya 30 persen saja petani yang usianya di bawah 40 tahun. Mereka itulah petani milenial. Sebagian besar petani kita kolotnial. Dalam waktu 10 tahun yang akan datang, mereka akan tidak produktif lagi. Maka, siap tidak siap, kita harus kita genjot pertumbuhan petani milenial. Petani muda harus berkiprah di sektor pertanian," tuturnya.
(Baca Juga: Mentan SYL: Jadi Kenyang Tidak Harus dari Nasi )
Tak dipungkiri, Dedi menyebut saat ini petani milenial yang mampu menggerakkan roda pembangunan pertanian Indonesia. Selain cerdas, Dedi menilai petani milenial juga inovatif. Mereka selalu menemukan cara bagaimana menjual produk pertanian yang bagus dengan produktivitas, kualitas dan kontinuitas yang terus meningkat.
"Mereka juga cukup adaptif dengan teknolog baru. Saat ini, pertnian kita sudah masuk dalam inovasi teknologi 4.0. Ada traktor yang dikemudikan dengan internet dan remote. Di hilirnya lahir berbagai startup yang mendekatkan produsen dan konsumen," jelasnya.
CEO PT Tsamarot Indonesia, Muhammad Ilham Syafaat dalam keterangan, berharap tak hanya perusahaannya yang akan mendapatkan benefit atas MoU yang ditandatangani ini, tetapi juga petani milenial dan terlebih petani serta pertanian Indonesia secara keseluruhan. Ia berharap kerja sama ini dapat meningkatkan keberlangsungan petani dan pertanian Indonesia.
Lihat Juga :