Bukan Prioritas, Pemerintah Diminta Stop Dulu Berutang untuk Biayai Infrastruktur
Senin, 16 November 2020 - 11:47 WIB
Foto/Ilustrasi
JAKARTA - Peneliti Indef Nailul Huda mengatakan, meskipun Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia melambat, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mengalami kontraksi. Sehingga, rasio ULN terhadap PDB Indonesia juga meningkat.
"Ini yang harus menjadi catatan. Bahwa kemampuan PDB kita dalam menanggulangi ULN mengalami penurunan," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Senin (16/11/2020).
(Baca juga: Mendag: Kerjasama Dagang 15 Negara Bisa Dongkrak PDB 0,05% )
Dia pun mengingatkan pemerintah dan Bank Indonesia sudah sepatutnya waspada pada pengelolaan utang terutama ULN. Namun demikian, lanjut Huda, ULN dari pemerintah sudah seharunya dilakukan dengan prinsip prioritas.
"Kesehatan menjadi hal yang paling penting. Utang untuk infrastruktur dan lainnya mohon dihentikan dahulu. Fokuslah pada urusan kesehatan," tegas Huda.
Sebagai informasi, berdasar data Bank Indonesia, ULN Pemerintah tumbuh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada akhir kuartal III/2020, ULN Pemerintah sebesar USD197,4 miliar atau tumbuh 1,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), menurun dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 2,1% (yoy).
"Ini yang harus menjadi catatan. Bahwa kemampuan PDB kita dalam menanggulangi ULN mengalami penurunan," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Senin (16/11/2020).
(Baca juga: Mendag: Kerjasama Dagang 15 Negara Bisa Dongkrak PDB 0,05% )
Dia pun mengingatkan pemerintah dan Bank Indonesia sudah sepatutnya waspada pada pengelolaan utang terutama ULN. Namun demikian, lanjut Huda, ULN dari pemerintah sudah seharunya dilakukan dengan prinsip prioritas.
"Kesehatan menjadi hal yang paling penting. Utang untuk infrastruktur dan lainnya mohon dihentikan dahulu. Fokuslah pada urusan kesehatan," tegas Huda.
Sebagai informasi, berdasar data Bank Indonesia, ULN Pemerintah tumbuh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada akhir kuartal III/2020, ULN Pemerintah sebesar USD197,4 miliar atau tumbuh 1,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), menurun dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 2,1% (yoy).
Lihat Juga :