Langkah Sektor Perbankan Tahun Depan Masih Akan Tertatih-tatih
Rabu, 18 November 2020 - 17:35 WIB
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengatakan, tantangan sektor perbankan saat ini dan ke depan masih akan cukup berat. Pertumbuhan ekonomi di tahun depan diperkirakan hanya separuhnya dari target pemerintah yang sebesar 5%. Pertumbuhan itu akan berpengaruh pada penyaluran kredit di tahun 2021.
"Pertumbuhan ekonomi tahun depan mungkin separuhnya, atau antara 3% hingga 4% paling tinggi. Itu menunjukkan bahwa kemungkinan tahun depan pun pertumbuhan kredit tidak bisa dipaksakan. Mungkin 3% saja sudah bagus kalau bisa tumbuh 3%. Tahun ini kemungkinan hanya sekitar 1%," ujarnya pada diskusi Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021: Jalan Terjal Pemulihan Ekonomi, Rabu (18/11/2020). ( Baca juga:Ekonom: Tanpa Ekosistem, Fintech Akan Sulit Berkembang )
Aviliani melanjutkan, saat ini perbankan kelebihan likuiditas karena bank mendapat penempatan dana yang besar dari masyarakat. Ada dua faktor yang menyebabkan perbankan kelebihan likuiditas. Pertama, sebagian masyarakat kelas atas yang sekarang belum berani belanja atau keluar rumah sehingga kecenderungan mereka mengurangi konsumsi.
Kedua, perusahaan cenderung menempatkan dana untuk persiapan apabila kondisi ini masih panjang, mereka harus bisa bertahan.
"Pertumbuhan ekonomi tahun depan mungkin separuhnya, atau antara 3% hingga 4% paling tinggi. Itu menunjukkan bahwa kemungkinan tahun depan pun pertumbuhan kredit tidak bisa dipaksakan. Mungkin 3% saja sudah bagus kalau bisa tumbuh 3%. Tahun ini kemungkinan hanya sekitar 1%," ujarnya pada diskusi Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021: Jalan Terjal Pemulihan Ekonomi, Rabu (18/11/2020). ( Baca juga:Ekonom: Tanpa Ekosistem, Fintech Akan Sulit Berkembang )
Aviliani melanjutkan, saat ini perbankan kelebihan likuiditas karena bank mendapat penempatan dana yang besar dari masyarakat. Ada dua faktor yang menyebabkan perbankan kelebihan likuiditas. Pertama, sebagian masyarakat kelas atas yang sekarang belum berani belanja atau keluar rumah sehingga kecenderungan mereka mengurangi konsumsi.
Kedua, perusahaan cenderung menempatkan dana untuk persiapan apabila kondisi ini masih panjang, mereka harus bisa bertahan.
Lihat Juga :