Enam Jurus BI Perkuat Stabilitas Sistem Keuangan saat Covid-19

Senin, 11 Mei 2020 - 19:31 WIB
"Meskipun, kami melihat bahwa ruang penurunan suku bunga ke depan, dalam hal ketidakpastian pasar keuangan sudah mulai stabil, masih terbuka," terang Perry dalam video konferensi di Jakarta, Senin (11/5/2020).

Kedua, BI terus melakukan stabilisasi dan penguatan rupiah melalui peningkatan intensitas kebijakan intervensi baik di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun pembelian SBN dari pasar sekunder. Kebijakan ini didukung oleh cadangan devisa yang lebih dari cukup.

BI juga telah menjalin kerja sama bilateral swap dan repo line dengan sejumlah bank sentral negara lain, termasuk dengan bank sentral Amerika Serikat dan China. Dengan langkah-langkah stabilisasi tersebut, nilai tukar rupiah bergerak menguat dari yang semula hampir menyentuh Rp17.000 per USD menjadi di bawah Rp15.000 per USD saat ini.

"Bank Indonesia meyakini bahwa tingkat nilai tukar rupiah saat ini secara fundamental masih undervalued dan insya Allah ke depan nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dan cenderung menguat," katanya.

Ketiga, BI terus memperluas instrumen dan transaksi di pasar uang dan pasar valuta asing. Hal ini ditempuh antara lain dengan menyediakan lebih banyak instrumen lindung nilai terhadap risiko nilai tukar rupiah melalui transaksi DNDF, memperbanyak transaksi swap valas, dan penyediaan term repo untuk kebutuhan perbankan.

Keempat, untuk mendorong pembiayaan bagi dunia usaha dan pemulihan ekonomi nasional, Bank Indonesia telah melakukan injeksi likuiditas (quantitative easing) ke pasar uang dan perbankan dalam jumlah yang besar. Tahun 2020, Bank Indonesia telah melalukan injeksi likuditas sekitar Rp503,8 triliun.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!