Startup Menjadi Enabler Sekaligus Agregator Bagi UMKM

Kamis, 24 Desember 2020 - 14:51 WIB
Dari segi reformasi aturan dan regulasi, penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang KUMKM juga akan memfasilitasi berbagai kemudahan.

Salah satu kemudahan yang diberikan untuk UMKM maupun startup adalah dalam hal mendapatkan inkubasi dari lembaga incubator. “Baik inkubator pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, maupun dunia usaha," jelas Teten.

Menurut Teten, lembaga inkubasi memiliki peran strategis dalam penciptaan dan pengembangan usaha. Khususnya, bagi usaha-usaha yang berbasis teknologi, berwawasan lingkungan, berorientasi ekspor, maupun berbasis industri kreatif.

"Upaya tersebut akan dilakukan pemerintah dalam rangka memanfaatkan momentum yang tepat, di tengah gaung Revolusi Industri 4.0 yang menjadikan digitalisasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan," ucap MenkopUKM.

MenkopUKM juga membuka pintu seluas-luasnya untuk menerima masukan maupun sumbangsih ide dan inisiatif kerja sama lainnya, untuk memperkokoh sinergi antara pemerintah dan pelaku startup.

Pemenang Kompetisi

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran KemenkopUKM Victoria Simanungkalit menjelaskan, kegiatan Korea-ASEAN Business Model Competition 2020 for SDG’s dilaksanakan atas kerja sama antara pemerintah Korea (ASEM SME Eco-Innovation Center/ASEIC) berkolaborasi dengan Green Business Center dan Shinhan Future’s Lab Indonesia bersama dengan pemerintah Indonesia (Kementerian Koperasi dan UKM).

Baca juga :Pemulihan Ekonomi Global Masih Terbatas, Hanya China yang Diramal Tumbuh Positif

Victoria menyatakan, 200 startup dari Korea, Indonesia, Myanmar, Kamboja dan Laos mendaftar untuk kompetisi ini, kemudian diseleksi ke dalam top 26 untuk selanjutnya diseleksi kembali ke dalam top 10 yang kemudian mengikuti sesi mentoring dan melakukan presentasi di hadapan para juri.

Kesepuluh finalis ini merupakan startup yang dijalankan oleh para telanta muda millenial di mana usahanya berbasiskan Research dan Development (R&D), Digital, Industri 4.0, Bisnis Hijau (Green Business) yang ramah lingkungan, serta berbasis energi terbarukan."Sektor-sektor tersebut merupakan pendukung Sustainable Development Goals (SDGs)," kata Victoria.

Juara Pertama kegiatan Korea-Asean ini adalah Bell Society (Arka Irfani), startup yang bergerak di bidang pengolahan limbah organik seperti kulit buah dan limbah pertanian lainnya menjadi kulit yang ramah lingkungan yang dinamai Misel. Bahan ini digunakan untuk menggantikan kulit sintetis yang tidak ramah lingkungan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!