Pecah Rekor! Harga Pangan Dunia Meroket hingga 50%

Jum'at, 19 Maret 2021 - 20:12 WIB
Musim panas lalu, para petani gandum Australia menuai hasil panen besar-besaran dan akan mengeruk keuntungan dari hasil panen yang melimpah untuk dijual ketika harga sedang tinggi. "Kondisi ini sangat positif bagi petani dan masyarakat pedesaan," kata Charles.

Analisis oleh lembaga survei komoditas milik pemerintah Australia ABARES menemukan harga pangan lokal naik tipis pada tahun 2020 terutama dipicu kenaikan harga daging. ABARES memperingatkan kemungkinan ada kenaikan harga di tingkat petani untuk buah dan sayuran, karena produksi yang lebih rendah tahun ini.

Impor Meningkat

Kenaikan harga pangan menbuat impor turut meningkat karena negara-negara di dunia berusaha memenuhi pasokan komoditas di dalam negerinya masing-masing, seperti gandum, jagung, dan kedelai. Permintaan tertinggi datang dari China yang kondisi ekonominya sedang melambung kembali setelah beberapa saat menurun, dengan tingginya permintaan gandum untuk pakan ternak.

Rabobank memperkirakan, permintaan akan berlangsung sampai bertahun-tahun mendatang. Seiring dengan meningkatnya permintaan, eksportir utama juga berupaya untuk menahan stok. Misalnya, Rusia yang memberlakukan pajak ekspor gandum atau Argentina yang memberlakukan kuota ekspor jagung.

Perusahaan makanan besar yang terdaftar di bursa juga meningkatkan jumlah stok yang mereka miliki di gudang untuk menghindari gangguan yang disebabkan Covid-19. Kondisi ini merupakan cermin pergeseran manajemen inventaris, dari pendekatan just in time (pengadaan yang tepat waktu) ke just in case (pengadaan jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak terduga), menurut laporan tersebut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!