Ke Depan Bank Tak Lagi Menyimpan Uang Tunai, tapi Data
Minggu, 21 Maret 2021 - 22:00 WIB
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Tidak lama lagi istilah bank sebagai tempat menyimpan dana, tidak lagi diartikan secara tradisional berupa uang cash. Tetapi berupa uang elektronik yang menjadi data. Berikutnya istilah dana beralih sebagai data. Suatu saat orang tidak kenal uang kertas tapi uang elektronik.
Pengamat tren telekomunikasi, Moch. S. Hendrowijono, menceritakan era dekade lalu, perbankan seingat dia masih alergi dengan sistem telekomunikasi digital untuk semua transaksi perbankan. Karena itu berarti akan meruntuhkan sistem yang selama ini dilakukan secara offline dengan tampilan gedung atau bangunan megah, karyawan berdasi, hingga antrean orang di depan teller.
"Fungsi sebagai bank data sama dengan pusat data yang sekarang makin marak digunakan oleh berbagai korporasi. Data center muncul di mana-mana dan selalu bertambah dengan makin beragamnya kebutuhan, bukan hanya untuk sektor telko saja," ujar Hendrowijono saat dihubungi MNC Portal Indonesia di Jakarta (21/3/2021). ( Baca juga:H-2! MNC Bank akan Undi e-Voucher Shopee Ratusan Juta Rupiah, Segera Tambah Saldo! )
Digitalisasi kini tidak bisa ditepis perbankan dan mau tidak mau mereka akan ke sana, cepat atau lambat. Hampir tidak ada perbedaan cara pengelolaan keuangan sebagai bank, dalam masalah data. Walau tetap saja namanya bank yang mengurusi uang, hanya cara transaksinya lebih banyak cashless.
Ke depan uang kartal atau berbentuk fisik diperkirakan makin tidak banyak beredar. Orang tidak lagi membawa uang dalam dompet.
Yang akan terjadi, efisiensi di perbankan dengan makin berkurangnya SDM yang dipekerjakan, makin sedikitnya kantor cabang yang dibangun atau dibutuhkan. "Apalagi dengan bank data yang kuat dan sistem digitalisasi yang didukung unsur telekomunikasi makin canggih, orang bisa melakukan transfer dengan jumlah tanpa batas. Sementara cara sekarang maksimal hanya beberapa puluh juta rupiah sekali transfer," tambahnya.
Pengamat tren telekomunikasi, Moch. S. Hendrowijono, menceritakan era dekade lalu, perbankan seingat dia masih alergi dengan sistem telekomunikasi digital untuk semua transaksi perbankan. Karena itu berarti akan meruntuhkan sistem yang selama ini dilakukan secara offline dengan tampilan gedung atau bangunan megah, karyawan berdasi, hingga antrean orang di depan teller.
"Fungsi sebagai bank data sama dengan pusat data yang sekarang makin marak digunakan oleh berbagai korporasi. Data center muncul di mana-mana dan selalu bertambah dengan makin beragamnya kebutuhan, bukan hanya untuk sektor telko saja," ujar Hendrowijono saat dihubungi MNC Portal Indonesia di Jakarta (21/3/2021). ( Baca juga:H-2! MNC Bank akan Undi e-Voucher Shopee Ratusan Juta Rupiah, Segera Tambah Saldo! )
Digitalisasi kini tidak bisa ditepis perbankan dan mau tidak mau mereka akan ke sana, cepat atau lambat. Hampir tidak ada perbedaan cara pengelolaan keuangan sebagai bank, dalam masalah data. Walau tetap saja namanya bank yang mengurusi uang, hanya cara transaksinya lebih banyak cashless.
Ke depan uang kartal atau berbentuk fisik diperkirakan makin tidak banyak beredar. Orang tidak lagi membawa uang dalam dompet.
Yang akan terjadi, efisiensi di perbankan dengan makin berkurangnya SDM yang dipekerjakan, makin sedikitnya kantor cabang yang dibangun atau dibutuhkan. "Apalagi dengan bank data yang kuat dan sistem digitalisasi yang didukung unsur telekomunikasi makin canggih, orang bisa melakukan transfer dengan jumlah tanpa batas. Sementara cara sekarang maksimal hanya beberapa puluh juta rupiah sekali transfer," tambahnya.
Lihat Juga :