CEO PT Vale Febriany Eddy, Perempuan Pertama Memimpin di Sektor Tambang
Kamis, 29 April 2021 - 14:27 WIB
Saya percaya satu hal, bahwa terlepas dari laki-laki atau perempuan, pada akhirnya keberhasilan kita ditentukan oleh tekad masing-masing dari kita untuk tumbuh dan berkembang. Saya tidak menampik bahwa saya pun pernah merasa minder.
Dulu, saya mengira, saya harus berpikir dan bertindak layaknya seorang pria untuk bisa sukses di industri ini. Saya pernah mengira bahwa sulit bagi perempuan untuk bisa diterima di dunia yang maskulin. Namun seiring waktu, saya semakin yakin bahwa industri pertambangan memerlukan kehadiran perempuan. Dengan syarat, perempuan punya determinasi dan selalu mengasah kompetensi. Justru dengan mengedepankan sudut pandang dan suara perempuan, dunia pertambangan bisa maju, di era yang semakin mengedepankan keberagaman dan inklusivitas. Bicara diversity and inclusion, saya tidak hanya menekankan keberagaman gender, melainkan juga keberagaman ras, suku, latar belakang, termasuk merangkul rekan-rekan difabel. Dengan menjadi beragam dan inklusif, Perusahaan menjadi lebih kaya sudut pandang, kaya solusi, dan kaya inovasi.
Terkhusus di Vale, bagaimana ibu melihat apresiasi perusahaan terhadap pekerja perempuan? Apakah diberi ruang yang sama berdasarkan kapabilitas yang dimiliki, tidak melulu karena posisinya perempuan harus didahulukan?
Hal pertama yang bisa dilakukan untuk melangkah ke tahap selanjutnya, adalah mengakui kondisi yang ada saat ini. Sebelum kita mencapai kesetaraan gender, kita perlu mengakui bahwa ada ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. Kita tidak boleh menutup mata. Di PT Vale, jumlah karyawan perempuan baru 257 atau 8,5% dari total keseluruhan karyawan. Padahal untuk mencapai kesetaraan, proporsi atau keterwakilan menjadi titik awalnya.
Baca Juga: PT Vale Mulai Program Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai di Desa Kasintuwu Lutim
Di sinilah saya menekankan pentingnya positive affirmation. Rekrutmen dan promosi di PT Vale tetap berlandaskan pada kompetensi. Di sisi lain, PT Vale berupaya menjadi Perusahaan yang ramah perempuan dan memberikan kesempatan kepada pekerja perempuan untuk mengembangkan karirnya. Bukan berarti perempuan mendapat keistimewaan tanpa memandang kompetensinya, melainkan kami memberi dukungan ekstra kepada perempuan untuk berkembang. Misalnya begini, jika ada satu posisi di PT Vale yang ditinggalkan oleh seorang karyawan perempuan, maka penggantinya juga diutamakan perempuan. Dengan catatan, dia kompeten. Begitulah contoh bentuk afirmasi positif yang kami lakukan. Vale punya terget meningkatkan persentase pekerja perempuan sebesar 100% dalam jangka menengah-panjang. Afirmasi positif, adalah salah satu caranya.
Bagaimana menjalankan perusahaan dengan mengedepankan kesetaraan?
Tentu tidak mudah. Sampai hari ini, dunia pertambangan masih erat citranya dengan industri yang maskulin, meskipun sudah banyak pergeseran dibanding waktu pertama kali saya mengawali karir di Vale, 16 tahun lalu. Untuk mewujudkan kesetaraan, saya ingin menggarisbawahi peran leaders. Tidak hanya manajemen atau level high managerial, tetapi termasuk leaders di lapangan. Mereka harus bebas bias gender dan punya wawasan kesetaraan. Ketika leaders sudah bisa menjadi teladan bagi anggota timnya, budaya setara itu akan terbentuk. Untuk itu, PT Vale melakukan pelatihan bias gender terhadap para leader dan kami punya jadwal khusus untuk membahas agenda D&I dalam rapat rutin. Saya menaruh harapan bahwa Vale dapat menjadi “rumah” untuk semua kalangan.
Strategi dalam bekerja seperti apa, apalagi yang didirect adalah dominasi laki-laki?
Saya memegang teguh prinsip respect is earned, not given. Orang lain akan menaruh hormat kepada kita jika kita juga menghargai mereka, mau mendengar, punya empati, siap menerima kritik membangun, dan, yang paling penting, menunjukkan kompetensi. Vale menanamkan budaya open and transparent dialogue.
Di situlah leaders memosisikan diri setara dengan karyawan lain. Ketika kita saling terbuka dan menghargai satu sama lain, komunikasi menjadi lancar dan efektif. Leaders bisa memberi arahan dengan lancar, sekaligus menerima masukan dari anggota tim. Leaders dihargai karena kompetensi dan kepeduliannya. Di sini, saya tidak melihat ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Siapapun harus mengembangkan sikap dan perilaku saling menghargai.
Di masa pandemi, tentu bukan perkara mudah untuk menjalankan perusahaan. Strategi apa yang dilakukan agar menjaga operasional tetap berjalan dengan maksimal?
Pandemi COVID-19 membawa dampak besar bagi seluruh kalangan, terutama dunia usaha. Vale memiliki nilai utama life matters most, kehidupan adalah hal terpenting. Di sinilah komitmen kami untuk selalu mengutamakan kesehatan dan keselamatan diuji. PT Vale dituntut untuk beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru secara cepat. Pedoman kami dalam upaya pencegahan dan penanganan COVID-19 mencakup screening, testing, tracing, treatment, dan recovery. Kami melakukan screening COVID-19 melalui swab antigen setiap 3 minggu sekali yang diikuti dengan tes PCR bagi mereka yang reaktif dan masih berjalan hingga hari ini, kami juga masih menangguhkan seluruh perjalanan yang sifatnya non-esensial, menerapkan mekanisme bekerja dari rumah bagi fungsi-fungsi yang memungkinkan, memberlakukan daily health checklist kepada siapapun yang hendak memasuki area operasi kami, melakukan pembatasan jarak fisik di lokasi operasi, memberlakukan metode sekolah dari rumah bagi siswa Yayasan Pendidikan Sorowako, menutup fasilitas olahraga dan rekreasi di bawah pengelolaan Perusahaan, dan masih banyak lagi.
Dulu, saya mengira, saya harus berpikir dan bertindak layaknya seorang pria untuk bisa sukses di industri ini. Saya pernah mengira bahwa sulit bagi perempuan untuk bisa diterima di dunia yang maskulin. Namun seiring waktu, saya semakin yakin bahwa industri pertambangan memerlukan kehadiran perempuan. Dengan syarat, perempuan punya determinasi dan selalu mengasah kompetensi. Justru dengan mengedepankan sudut pandang dan suara perempuan, dunia pertambangan bisa maju, di era yang semakin mengedepankan keberagaman dan inklusivitas. Bicara diversity and inclusion, saya tidak hanya menekankan keberagaman gender, melainkan juga keberagaman ras, suku, latar belakang, termasuk merangkul rekan-rekan difabel. Dengan menjadi beragam dan inklusif, Perusahaan menjadi lebih kaya sudut pandang, kaya solusi, dan kaya inovasi.
Terkhusus di Vale, bagaimana ibu melihat apresiasi perusahaan terhadap pekerja perempuan? Apakah diberi ruang yang sama berdasarkan kapabilitas yang dimiliki, tidak melulu karena posisinya perempuan harus didahulukan?
Hal pertama yang bisa dilakukan untuk melangkah ke tahap selanjutnya, adalah mengakui kondisi yang ada saat ini. Sebelum kita mencapai kesetaraan gender, kita perlu mengakui bahwa ada ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. Kita tidak boleh menutup mata. Di PT Vale, jumlah karyawan perempuan baru 257 atau 8,5% dari total keseluruhan karyawan. Padahal untuk mencapai kesetaraan, proporsi atau keterwakilan menjadi titik awalnya.
Baca Juga: PT Vale Mulai Program Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai di Desa Kasintuwu Lutim
Di sinilah saya menekankan pentingnya positive affirmation. Rekrutmen dan promosi di PT Vale tetap berlandaskan pada kompetensi. Di sisi lain, PT Vale berupaya menjadi Perusahaan yang ramah perempuan dan memberikan kesempatan kepada pekerja perempuan untuk mengembangkan karirnya. Bukan berarti perempuan mendapat keistimewaan tanpa memandang kompetensinya, melainkan kami memberi dukungan ekstra kepada perempuan untuk berkembang. Misalnya begini, jika ada satu posisi di PT Vale yang ditinggalkan oleh seorang karyawan perempuan, maka penggantinya juga diutamakan perempuan. Dengan catatan, dia kompeten. Begitulah contoh bentuk afirmasi positif yang kami lakukan. Vale punya terget meningkatkan persentase pekerja perempuan sebesar 100% dalam jangka menengah-panjang. Afirmasi positif, adalah salah satu caranya.
Bagaimana menjalankan perusahaan dengan mengedepankan kesetaraan?
Tentu tidak mudah. Sampai hari ini, dunia pertambangan masih erat citranya dengan industri yang maskulin, meskipun sudah banyak pergeseran dibanding waktu pertama kali saya mengawali karir di Vale, 16 tahun lalu. Untuk mewujudkan kesetaraan, saya ingin menggarisbawahi peran leaders. Tidak hanya manajemen atau level high managerial, tetapi termasuk leaders di lapangan. Mereka harus bebas bias gender dan punya wawasan kesetaraan. Ketika leaders sudah bisa menjadi teladan bagi anggota timnya, budaya setara itu akan terbentuk. Untuk itu, PT Vale melakukan pelatihan bias gender terhadap para leader dan kami punya jadwal khusus untuk membahas agenda D&I dalam rapat rutin. Saya menaruh harapan bahwa Vale dapat menjadi “rumah” untuk semua kalangan.
Strategi dalam bekerja seperti apa, apalagi yang didirect adalah dominasi laki-laki?
Saya memegang teguh prinsip respect is earned, not given. Orang lain akan menaruh hormat kepada kita jika kita juga menghargai mereka, mau mendengar, punya empati, siap menerima kritik membangun, dan, yang paling penting, menunjukkan kompetensi. Vale menanamkan budaya open and transparent dialogue.
Di situlah leaders memosisikan diri setara dengan karyawan lain. Ketika kita saling terbuka dan menghargai satu sama lain, komunikasi menjadi lancar dan efektif. Leaders bisa memberi arahan dengan lancar, sekaligus menerima masukan dari anggota tim. Leaders dihargai karena kompetensi dan kepeduliannya. Di sini, saya tidak melihat ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Siapapun harus mengembangkan sikap dan perilaku saling menghargai.
Di masa pandemi, tentu bukan perkara mudah untuk menjalankan perusahaan. Strategi apa yang dilakukan agar menjaga operasional tetap berjalan dengan maksimal?
Pandemi COVID-19 membawa dampak besar bagi seluruh kalangan, terutama dunia usaha. Vale memiliki nilai utama life matters most, kehidupan adalah hal terpenting. Di sinilah komitmen kami untuk selalu mengutamakan kesehatan dan keselamatan diuji. PT Vale dituntut untuk beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru secara cepat. Pedoman kami dalam upaya pencegahan dan penanganan COVID-19 mencakup screening, testing, tracing, treatment, dan recovery. Kami melakukan screening COVID-19 melalui swab antigen setiap 3 minggu sekali yang diikuti dengan tes PCR bagi mereka yang reaktif dan masih berjalan hingga hari ini, kami juga masih menangguhkan seluruh perjalanan yang sifatnya non-esensial, menerapkan mekanisme bekerja dari rumah bagi fungsi-fungsi yang memungkinkan, memberlakukan daily health checklist kepada siapapun yang hendak memasuki area operasi kami, melakukan pembatasan jarak fisik di lokasi operasi, memberlakukan metode sekolah dari rumah bagi siswa Yayasan Pendidikan Sorowako, menutup fasilitas olahraga dan rekreasi di bawah pengelolaan Perusahaan, dan masih banyak lagi.
Lihat Juga :