Dikepung Pandemi, Industri Reksa Dana Tetap Sakti
Selasa, 11 Mei 2021 - 12:14 WIB
“Puncaknya adalah saat pandemi Covid-19 sejak akhir 2019. Kebijakan social distancing, pemberlakuan protokoler kesehatan secara ketat, untuk memutus mata rantai penyebaran virus, telah mengakselerasi penggunaan teknologi digital secara lebih massif lagi,” paparnya.
Selain itu, lanjut dia, pandemi juga mengubah behaviour para milenial. Generasi suka plesiran ini memiliki ekses likuiditas karena mereka mengurangi kebiasaan traveling. Dana berlebih ini mereka gunakan sebagian untuk berinvestasi.
“Bibit menjadi pilihan utama karena kami membantu mereka untuk berinvestasi secara benar dan terjangkau. Hanya dengan Rp10.000, pengguna bisa beli reksadana. Saat ini, sebanyak 91% pengguna Bibit adalah generasi milenial,” tegas Sigit.
Alasan kedua, lanjut Sigit, suku bunga saat ini sangat rendah yang membuat deposito menjadi kurang menarik. Hal ini membuat reksa dana menjadi pilihan yang relatif aman. Ketiga, faktor regulator yang mengizinkan e-kyc. Menurut Sigit ini adalah faktor yang sangat signifikan dan menentukan eksistensi Bibit. Pasalnya, sebelumnya KYC dilakukan secara tatap muka, datang ke konter bank. “Begitu regulator mengizinkan e-kyc, dalam enam bulan, kita sudah mencover 450 kota dari total 520 kota di Indonesia,” tuturnya.
Sigit mengungkapkan, yang menjadi kelebihan dari Bibit yang disukai investor adalah pihaknya merancang teknologi, platform investasi, dan bisnis model yang memampukan investor pemula, tanpa pengetahuan yang cukup di capital market, bisa berinvestasi secara benar. Namun tetap memperhatikan tiga hal utama yakni risk tolerance, kondisi keuangan dan tujuan investasi.
Menurut Sigit, Bibit memiliki fitur sangat personal, bisa dicustomized sesuai karakter masing masing individu. Untuk pengukuran risiko, ada fitur Robo Advisor. Fungsi utamanya membantu pengguna untuk memahami batas toleransi atau risk profile. “Dengan fitur ini akan terlihat investor ini tipenya seperti apa moderat atau agresif,” kata Sigit.
Keunikan lainnya, Sigit menuturkan, Bibit menggunakan Markowitz Model untuk membantu nasabah lebih disiplin dalam diversifikasi aset untuk mencapai return investasi yang optimal. Kombinasi antara Robo Advisor dan Markowitz model memampukan tiap pengguna Bibit untuk menyeimbangkan antara tingkat risiko dengan target investasi serta mengoptimalkan return dengan melakukan diversifikasi aset secara disiplin dan terukur.
“Kami merasa Robo advisor dan Markowitz model ini menjadi pembeda, di luar keunikan Bibit sebagai platform investasi yang memberikan kemudahan dan fleksibiltas bagi investor,” pungkasnya.
Selain itu, lanjut dia, pandemi juga mengubah behaviour para milenial. Generasi suka plesiran ini memiliki ekses likuiditas karena mereka mengurangi kebiasaan traveling. Dana berlebih ini mereka gunakan sebagian untuk berinvestasi.
“Bibit menjadi pilihan utama karena kami membantu mereka untuk berinvestasi secara benar dan terjangkau. Hanya dengan Rp10.000, pengguna bisa beli reksadana. Saat ini, sebanyak 91% pengguna Bibit adalah generasi milenial,” tegas Sigit.
Alasan kedua, lanjut Sigit, suku bunga saat ini sangat rendah yang membuat deposito menjadi kurang menarik. Hal ini membuat reksa dana menjadi pilihan yang relatif aman. Ketiga, faktor regulator yang mengizinkan e-kyc. Menurut Sigit ini adalah faktor yang sangat signifikan dan menentukan eksistensi Bibit. Pasalnya, sebelumnya KYC dilakukan secara tatap muka, datang ke konter bank. “Begitu regulator mengizinkan e-kyc, dalam enam bulan, kita sudah mencover 450 kota dari total 520 kota di Indonesia,” tuturnya.
Sigit mengungkapkan, yang menjadi kelebihan dari Bibit yang disukai investor adalah pihaknya merancang teknologi, platform investasi, dan bisnis model yang memampukan investor pemula, tanpa pengetahuan yang cukup di capital market, bisa berinvestasi secara benar. Namun tetap memperhatikan tiga hal utama yakni risk tolerance, kondisi keuangan dan tujuan investasi.
Menurut Sigit, Bibit memiliki fitur sangat personal, bisa dicustomized sesuai karakter masing masing individu. Untuk pengukuran risiko, ada fitur Robo Advisor. Fungsi utamanya membantu pengguna untuk memahami batas toleransi atau risk profile. “Dengan fitur ini akan terlihat investor ini tipenya seperti apa moderat atau agresif,” kata Sigit.
Keunikan lainnya, Sigit menuturkan, Bibit menggunakan Markowitz Model untuk membantu nasabah lebih disiplin dalam diversifikasi aset untuk mencapai return investasi yang optimal. Kombinasi antara Robo Advisor dan Markowitz model memampukan tiap pengguna Bibit untuk menyeimbangkan antara tingkat risiko dengan target investasi serta mengoptimalkan return dengan melakukan diversifikasi aset secara disiplin dan terukur.
“Kami merasa Robo advisor dan Markowitz model ini menjadi pembeda, di luar keunikan Bibit sebagai platform investasi yang memberikan kemudahan dan fleksibiltas bagi investor,” pungkasnya.
(dar)
Lihat Juga :