Goldman Sachs: Varian Delta Jadi Pukulan Keras bagi Ekonomi Asia Tenggara
Jum'at, 16 Juli 2021 - 12:53 WIB
"Lonjakan virus yang terbaru dan pembatasan yang lebih ketat kemungkinan akan lebih membebani secara signifikan pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun 2021 daripada yang diperkirakan sebelumnya," kata para ekonom lembaga tersebut.
Singapura, yang memperketat langkah-langkah jarak sosial pada awal Mei, mulai melakukan pelonggaran pembatasan bulan lalu. Ekonom Goldman memperkirakan bahwa Malaysia akan menjadi yang berikutnya untuk mengikuti pelonggaran pada kuartal keempat. Sementara ekonomi Asia Tenggara lainnya diperkirakan baru dapat melakukan pelonggaran pada paruh pertama tahun 2022.
Baca Juga: Kasus Covid-19 Terus Meningkat, Pengusaha Taiwan Eksodus Keluar Indonesia
Lebih lanjut, lembaga keuangan itu menilai pertumbuhan global yang lebih kuat akan sangat menguntungkan perekonomian yang berorientasi perdagangan seperti Singapura dan Malaysia. Malaysia, yang merupakan eksportir komoditas, kemungkinan akan mendapatkan keuntungan dari harga komoditas yang lebih tinggi saat ini.
Sementara itu, negara-negara yang memiliki ketergantungan yang lebih besar untuk sektor pariwisata, seperti Indonesia dan Thailand, kemungkinan akan mengalami pertumbuhan yang lebih rendah.
Singapura, yang memperketat langkah-langkah jarak sosial pada awal Mei, mulai melakukan pelonggaran pembatasan bulan lalu. Ekonom Goldman memperkirakan bahwa Malaysia akan menjadi yang berikutnya untuk mengikuti pelonggaran pada kuartal keempat. Sementara ekonomi Asia Tenggara lainnya diperkirakan baru dapat melakukan pelonggaran pada paruh pertama tahun 2022.
Baca Juga: Kasus Covid-19 Terus Meningkat, Pengusaha Taiwan Eksodus Keluar Indonesia
Lebih lanjut, lembaga keuangan itu menilai pertumbuhan global yang lebih kuat akan sangat menguntungkan perekonomian yang berorientasi perdagangan seperti Singapura dan Malaysia. Malaysia, yang merupakan eksportir komoditas, kemungkinan akan mendapatkan keuntungan dari harga komoditas yang lebih tinggi saat ini.
Sementara itu, negara-negara yang memiliki ketergantungan yang lebih besar untuk sektor pariwisata, seperti Indonesia dan Thailand, kemungkinan akan mengalami pertumbuhan yang lebih rendah.
(fai)
Lihat Juga :