Afghanistan Dominasi Bisnis Opium dan Heroin Global

Selasa, 24 Agustus 2021 - 19:46 WIB
Prospek pertambangan dapat menarik kekuatan besar seperti China untuk mengamankan sumber daya guna mendorong ekonomi hijaunya, tetapi akses yang sulit dan kurangnya jalan mempersulit ekstraksi.

Taliban yang merebut kekuasaan di Afghanistan telah mendorong salah satu negara termiskin di dunia itu kembali menjadi pusat perhatian. Kekerasan, ketidakstabilan, dan korupsi selama bertahun-tahun telah melumpuhkan ekonomi Afghanistan, mempersulit bisnis untuk berkembang dan membuat sebagian besar penduduk tetap miskin.

Setelah menyusut 2% pada tahun 2020 karena pandemi COVID-19, produk domestik bruto (PDB) berada di jalur untuk bangkit kembali dan tumbuh sebesar 2,7% tahun ini karena mobilitas dan perdagangan mulai dilanjutkan, IMF memperkirakan pada bulan Juni. Itu sejalan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 2,5% dalam beberapa tahun terakhir, tetapi jauh di bawah tingkat satu digit yang diskalakan dalam dekade setelah invasi AS tahun 2001.

Pergolakan terakhir membuat prospek ekonomi negara itu semakin genting. Fitch pada hari Jumat lalu memperkirakan ekonomi Afghanistan akan mengalami kontraksi tajam turun hingga 20%.

Lebih suramnya lagi, aliran remitansi dan bantuan internasional yang diandalkan Afghanistan di masa depan semakin tidak pasti. Berdasarkan laporan perkiraan Bank Dunia aliran remitasi dari luar ke Afghanistan mencapai USD789 juta pada 2020 atau sekitar 4% dari PDB.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!