Taliban Kuasai Cadangan Mineral Rp14 Ribu Triliun di Afghanistan

Kamis, 26 Agustus 2021 - 17:55 WIB
Baca Juga: Dokumen Internal Bocor: Taliban Ancam dan Pukuli Staf PBB

Permintaan logam seperti lithium dan kobalt, serta elemen tanah jarang seperti neodymium, melonjak ketika negara-negara mencoba beralih ke mobil listrik dan teknologi bersih lainnya untuk memangkas emisi karbon.

Badan Energi Internasional (IEA)mengatakan pada bulan Meibahwa pasokan global litium, tembaga, nikel, kobalt, dan elemen tanah jarang meningkat tajam atau dunia akan gagal dalam upayanya mengatasi krisis iklim. Tiga negara - Cina, Republik Demokratik Kongo dan Australia - saat ini menyumbang 75% dari produksi global lithium, kobalt, dan tanah jarang.

Menurut IEA, rata-rata mobil listrik membutuhkan mineral enam kali lebih banyak daripada mobil konvensional. Lithium, nikel dan kobalt sangat penting untuk baterai. Jaringan listrik juga membutuhkan tembaga dan aluminium dalam jumlah besar, sementara elemen tanah jarang digunakan dalam magnet yang dibutuhkan untuk membuat turbin angin bekerja.

Pemerintah AS dilaporkan telah memperkirakan bahwa deposit lithium di Afghanistan dapat menyaingi Bolivia sebagai negara dengan cadangan terbesar dunia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!