Pertamina Power Indonesia Kejar Kapasitas PLTS 500 MW dalam 5 Tahun

Kamis, 26 Agustus 2021 - 19:16 WIB
Dia menjelaskan, Kementerian ESDM mendorong adanya Permen PLTS Atap yang memberikan insentif lebih partisipasi masyarakat, yakni ketentuan ekspor yang lebih besar dari 65% dan kelebihan akumulasi selisih dinihilkan diperpanjang. “Selain itu, jangka waktu permohonan PLTS Atap lebih singkat, adanya pusat pengaduan sistem PLTS atap untuk menerima dan menindaklanjuti pengaduan, perluasan tidak hanya pelanggan PLN saja tapi dari pelanggan di luar wilayah usaha non-PLN, hingga mekanisme pelayanan diwajibkan,” jelasnya.

Namun, dia mengakui, pengembangan PLTS bukan tanpa tantangan, khususnya kemampuan industri solar PV dalam negeri yang baru pada tahap assembly modul surya. Pengembangan industri solar PV dalam negeri ada pada skala ekonomi yang kecil, sehingga tidak kompetitif. “Salah satu komponen PLTS yang penting yaitu inverter belum dapat diproduksi dalam negeri, teknologi penyimpanan energi masih mahal, dan kemampuan produksi dalam negeri juga masih terbatas untuk mendukung proyek PLTS skala besar,” katanya.

Direktur Pengembangan PT Bukit Asam Tbk Fuad IZ Fachroeddin mengatakan, jika dilihat dari RUEN sudah dipetakan potensi 207,8 GW energi surya. Solar PV ditargetkan 45 GW pada 2050, dari beberapa potensi EBT maka energi surya adalah salah satu yang terbesar. “Kami mempunyai rencana 2030-2050 dimana renewable masuk dalam salah satu pilar energi yang ada di Bukit Asam untuk men-support green energy dan beyond coal Bukit Asam,” ujarnya.

Baca Juga: Putin: Penarikan Pasukan AS Timbulkan Masalah Bagi Rusia

Menurut Fuad, pada RJPP hingga 2050, pengembangan EBT Bukit Asam cukup ambisius dan terukur karena mempunyai kelebihan dalam konteks lahan pasca tambang. Namun ada tantangan dalam pengembangan PLTS adalah ketersediaan lahan dan tarif yang atraktif bagi pembeli. "Kami sudah hitung dengan cermat untuk address dua hal tersebut,” kata dia.

Fuad mengatakan Bukit Asam sudah menyediakan 200 ha lahan di Ombilin. Namun karena kapasitasnya besar maka perlu persetujuan PLN. Di Tanjung Enim juga ada, sudah disampaikan ke PLN. Jadi kita sungguh-sungguh dalam hal penyediaan lahan untuk PLTS. Serta di Kaltim ada diasumsikan bertahap sampai 300 MW.

“Di tiga titik tersebut rencana besar kami. Semoga PLN bisa approve masuk RUPTL. Jadi ketersediaan lahan sudah ada, lalu kami juga ingin memberikan value ke PLN,” paparnya.

Sementara, Direktur Utama PT Sky Energy Indonesia Tbk Christoper Liawan, Sky energi berupaya mendukung upaya pemerintah untuk mendorong penggunaan PLTS melalui ekspansi kapasitas produksi. Sky Energy yang memproduksi solar cell dan solar modul telah menyiapkan pabrik baru. “Komitmen ke depannya perbesar TKDN untuk mendukung program pemerintah,” tegas Christoper.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!