Mendorong Anak Muda Terjun ke Dunia Pertanian
Sabtu, 30 Mei 2020 - 20:13 WIB
Apabila melihat pada komoditasnya, kata Ayip, akan terlihat semakin "mengerikan", karena pemuda yang berminat pada pertanian, juga tak banyak yang berminat menanam padi yang merupakan pangan pokok masyarakat Indonesia saat ini. "Spesifik tanaman pangan padi angkanya mengerikan, hanya 9,5% pemuda yang berminat. Kelompok ini pun, merupakan kelompok yang kalah dalam artian kelompok yang tidak diterima dalam bidang lain," jelasnya.
Lebih celakanya lagi, dari pemuda yang berminat terjun menanam padi, yang berpendidikan sarjana hanya 0,8%. "Padahal setiap tahun lulusan pertanian ribuan. Tapi ini adalah anomali juga. Data LPPM IPB mengungkapkan, sarjana pertanian yang langsung terjun ke pertanian sangat sedikit. Biasanya mereka muter dulu di sektor lain dan ketika mereka pede akan ke pertanian," paparnya.
Kondisi serupa sebenarnya juga terjadi pada minat pemuda untuk terjun ke pertanian di bidang hortikultura. Survei KRKP tahun 2014 di Kediri, Tegal, Karawang dan Bogor, pada tanaman pangan dan hortikultura menunjukkan, keluarga tanaman pangan hanya 37% anak muda yang mau meneruskan usaha pertanian orangtuanya. Sedangkan hortikultura 46%.
Angka keluarga yang ingin anak mereka meneruskan usaha pertanian di bidang hortikultura tampak lebih tinggi dan hal ini wajar mengingat tanaman hortikultura lebih tinggi harganya sehingga petaninya pun penghasilannya bisa lebih tinggi. Namun disparitas angka peminatan juga tidak begitu jauh antara tanaman pangan dan hortikultura.
Survei tersebut juga mengungkapkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi peminatan kaum muda pada bidang pertanian. Pertama, faktor jenis kelamin dimana survei mengungkapkan laki-laki lebih berminat terjun ke pertanian dibandingkan perempuan. Kedua, tingkat pendidikan.
Ironisnya, survei mengungkapkan, semakin tinggi pendidikan, semakin rendah minat pemuda terjun ke pertanian. Ketiga, adalah aktivitas utama. "Anak muda yang sudah terpapar pertanian akan tertarik untuk terjun," jelas Ayip.
Lebih celakanya lagi, dari pemuda yang berminat terjun menanam padi, yang berpendidikan sarjana hanya 0,8%. "Padahal setiap tahun lulusan pertanian ribuan. Tapi ini adalah anomali juga. Data LPPM IPB mengungkapkan, sarjana pertanian yang langsung terjun ke pertanian sangat sedikit. Biasanya mereka muter dulu di sektor lain dan ketika mereka pede akan ke pertanian," paparnya.
Kondisi serupa sebenarnya juga terjadi pada minat pemuda untuk terjun ke pertanian di bidang hortikultura. Survei KRKP tahun 2014 di Kediri, Tegal, Karawang dan Bogor, pada tanaman pangan dan hortikultura menunjukkan, keluarga tanaman pangan hanya 37% anak muda yang mau meneruskan usaha pertanian orangtuanya. Sedangkan hortikultura 46%.
Angka keluarga yang ingin anak mereka meneruskan usaha pertanian di bidang hortikultura tampak lebih tinggi dan hal ini wajar mengingat tanaman hortikultura lebih tinggi harganya sehingga petaninya pun penghasilannya bisa lebih tinggi. Namun disparitas angka peminatan juga tidak begitu jauh antara tanaman pangan dan hortikultura.
Survei tersebut juga mengungkapkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi peminatan kaum muda pada bidang pertanian. Pertama, faktor jenis kelamin dimana survei mengungkapkan laki-laki lebih berminat terjun ke pertanian dibandingkan perempuan. Kedua, tingkat pendidikan.
Ironisnya, survei mengungkapkan, semakin tinggi pendidikan, semakin rendah minat pemuda terjun ke pertanian. Ketiga, adalah aktivitas utama. "Anak muda yang sudah terpapar pertanian akan tertarik untuk terjun," jelas Ayip.
Lihat Juga :