Transisi Energi Tak Mengurangi Peran Penting Industri Hulu Migas
Selasa, 12 Oktober 2021 - 22:06 WIB
Begitu pula porsi bauran energi gas bumi diproyeksikan meningkat 22,4% pada 2025 menjadi 24% pada 2050. Untuk volume konsumsi gas bumi diproyeksikan meningkat 171% dari 1,76 BOEPD pada 2025 menjadi 4,79 BOEPD pada 2050. "Dengan demikian total konsumsi migas nasional akan meningkat 137% dari 3,95 BOEPD pada 2025 menjadi 9,40 BOEPD pada 2050," kata dia.
Tak hanya itu, peran industri migas juga penting dalam melahirkan industri jasa dan penunjang di tengah target produksi minyak 1 juta barel di 2030. Di sini menjadi momentum meningkatkan TKDN atau produk dalam negeri. "Namun untuk meningkatkan TKDN perlu dukungan lintas sektor lembaga dan kementerian dan roadmapnya juga harus jelas," tandasnya.
Berdasarkan nilai kontrak 2020-2021 yang dilaporkan SKK Migas, kontribusi industri pendukung sektor migas mencapai USD7,13 miliar atau lebih dari Rp100 triliun. Kepala Divisi Pengelolaan Rantai Suplai dan Analisis Biaya SKK Migas Erwin Suryadi mengatakan, target produksi minyak 1 juta barel di 2030 akan berdampak besar terhadap industri penunjang di dalam negeri. "Tentu ini jadi perhatian penting dalam rangka melibatkan industri dalam negeri," kata dia.
Baca Juga: Dilebur Bareng Bank BRI, Ini Nama Baru Pegadaian
Tak berhenti disitu, tahun lalu kontribusi hulu migas ke penerimaan negara mencapai Rp122 triliun atau tercapai 144% dari target APBN. Sampai Agustus 2021, penerimaan negara mencapai Rp125 triliun atau tercapai 125% dari target tahun ini. "Kami optimistis bahwa ke depan peran industri hulu migas tetap penting memberikan kontribusi kepada negara," kata dia.
Tak hanya itu, peran industri migas juga penting dalam melahirkan industri jasa dan penunjang di tengah target produksi minyak 1 juta barel di 2030. Di sini menjadi momentum meningkatkan TKDN atau produk dalam negeri. "Namun untuk meningkatkan TKDN perlu dukungan lintas sektor lembaga dan kementerian dan roadmapnya juga harus jelas," tandasnya.
Berdasarkan nilai kontrak 2020-2021 yang dilaporkan SKK Migas, kontribusi industri pendukung sektor migas mencapai USD7,13 miliar atau lebih dari Rp100 triliun. Kepala Divisi Pengelolaan Rantai Suplai dan Analisis Biaya SKK Migas Erwin Suryadi mengatakan, target produksi minyak 1 juta barel di 2030 akan berdampak besar terhadap industri penunjang di dalam negeri. "Tentu ini jadi perhatian penting dalam rangka melibatkan industri dalam negeri," kata dia.
Baca Juga: Dilebur Bareng Bank BRI, Ini Nama Baru Pegadaian
Tak berhenti disitu, tahun lalu kontribusi hulu migas ke penerimaan negara mencapai Rp122 triliun atau tercapai 144% dari target APBN. Sampai Agustus 2021, penerimaan negara mencapai Rp125 triliun atau tercapai 125% dari target tahun ini. "Kami optimistis bahwa ke depan peran industri hulu migas tetap penting memberikan kontribusi kepada negara," kata dia.
(nng)
Lihat Juga :