Bank Sulselbar Salurkan Kredit Rp20,9 Triliun hingga September 2021
Jum'at, 22 Oktober 2021 - 16:28 WIB
Menurut Yulis, rendahnya porsi kredit produktif disebabkan pandemi Covid-19 yang menyebar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Ditambah lagi, kebijakan pemerintah yang membatasi mobilitas masyarakat melalui kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Hal itu, kata Yulis, memberikan pengaruh sistemik terhadap kinerja, pendapatan, dan omzet penjualan dari para pelaku usaha. Bahkan, banyak dari mereka yang gulung tikar dan terpaksa menutup usahanya.
"Bank juga sulit untuk dapat memfasilitasi para pelaku usaha di kondisi seperti saat ini, karena Bank juga dituntut untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian (prudential banking) sehingga dalam menyalurkan kredit Bank lebih selektif," jelas Yulis.
Selanjutnya, dia menguraikan penyaluran kredit konsumtif yang mencapai 78,24 persen karena merupakan core bisnis Bank (captive market). Selain itu, juga untuk dapat memulihkan kondisi perekonomian, diperlukan dukungan untuk bisa memacu dan meningkatkan daya beli masyarakat.
"Untuk pemulihan ekonomi, dukungan kepada para pelaku usaha atau pengusaha sektor riil diperlukan, salah satu cara untuk dapat menggerakkan sektor riil adalah dengan meningkatkan daya beli masyarakat, kredit konsumtif inilah yang menjadi penggerak untuk memulihkan perekonomian khususnya di Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat," tambah Yulis.
Lebih jauh, dia menjelaskan ada beberapa langkah yang akan dilakukan agar kredit Bank Sulselbar tetap tumbuh dan berjalan sesuai target. Pihaknya akan berupaya melakukan perbaikan kualitas kredit ke sektor-sektor ekonomi yang terdampak pandemi Covid-19 melalui supervisi dan monitoring serta pendampingan untuk dapat bertahan melewati krisis ekonomi.
Hal itu, kata Yulis, memberikan pengaruh sistemik terhadap kinerja, pendapatan, dan omzet penjualan dari para pelaku usaha. Bahkan, banyak dari mereka yang gulung tikar dan terpaksa menutup usahanya.
"Bank juga sulit untuk dapat memfasilitasi para pelaku usaha di kondisi seperti saat ini, karena Bank juga dituntut untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian (prudential banking) sehingga dalam menyalurkan kredit Bank lebih selektif," jelas Yulis.
Selanjutnya, dia menguraikan penyaluran kredit konsumtif yang mencapai 78,24 persen karena merupakan core bisnis Bank (captive market). Selain itu, juga untuk dapat memulihkan kondisi perekonomian, diperlukan dukungan untuk bisa memacu dan meningkatkan daya beli masyarakat.
"Untuk pemulihan ekonomi, dukungan kepada para pelaku usaha atau pengusaha sektor riil diperlukan, salah satu cara untuk dapat menggerakkan sektor riil adalah dengan meningkatkan daya beli masyarakat, kredit konsumtif inilah yang menjadi penggerak untuk memulihkan perekonomian khususnya di Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat," tambah Yulis.
Lebih jauh, dia menjelaskan ada beberapa langkah yang akan dilakukan agar kredit Bank Sulselbar tetap tumbuh dan berjalan sesuai target. Pihaknya akan berupaya melakukan perbaikan kualitas kredit ke sektor-sektor ekonomi yang terdampak pandemi Covid-19 melalui supervisi dan monitoring serta pendampingan untuk dapat bertahan melewati krisis ekonomi.
Lihat Juga :