Utang Indonesia Disorot, Sri Mulyani Malah Senang

Minggu, 24 Oktober 2021 - 16:01 WIB
Sri Mulyani menjelaskan, jika utang berlipat ganda maka akan sulit untuk membayarnya. Apalagi, nilai tukar rupiah yang anjlok bisa menyebabkan krisis keuangan pada suatu negara.

Baca juga: Ingin Jadi Anggota FATF, Sri Mulyani Bakal Sikat Pencucian Uang

Sebab, jika perusahaan atau perbankan meminjam dalam bentuk dolar di luar negeri karena nilai tukarnya murah, begitu nilai tukarnya dikoreksi dari Rp2.500 menjadi Rp5.000, lalu menjadi Rp7.500, menjadi Rp10.000 bahkan jadi Rp17.000, maka akan berdampak kepada kondisi keuangan

"Kalau utang kita berlipat ganda walaupun tadi utangnya sama tetapi nilai tukar berubah maka penerimaan ada yang dalam bentuk rupiah menjadi tidak bisa mampu untuk membayarnya kembali," tandasnya.

Sebagai catatan, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan melaporkan hingga akhir Agustus 2021 posisi utang pemerintah mencapai Rp6.625,43 triliun atau setara dengan 41% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sesuai laporan APBN Kita edisi September 2021, dijelaskan utang pemerintah pada Agustus 2021 bertambah Rp55,27 triliun jika dibandingkan Juli 2021.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!