Harga Sawit Naik, Investor Cermati Rencana IPO Perusahaan Perkebunan
Kamis, 28 Oktober 2021 - 09:25 WIB
“Keunggulan lain adalah dari lokasi yang relatif dekat dengan pelabuhan, sehingga biaya juga semakin efisien. Selain itu, dari kontrak pembelian yang sudah dimiliki sehingga pemasaran lebih stabil,” kata Alfatih menjelaskan daya tarik saham NSS, Kamis (28/10/2021).
Dilihat dari prospek kenaikan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), Alfatih berpendapat, secara umum saham perusahaan perkebunan sawit saat ini sangat menarik untuk dijadikan pilihan investasi atau transaksi di pasar saham.
“Menurut saya, saham sektor perkebunan kelapa sawit sangat menarik untuk menjadi pilihan karena dari harganya saat ini termasuk rendah dibandingkan pada 2 hingga 3 tahun lalu. Di sisi lain, harga penjualan minyak kelapa sawit justru sedang tertinggi selama 3 tahun terakhir,” jelasnya.
Selain itu, dia mengatakan saham emiten sawit termasuk Laggard Stock di Bursa Efek Indonesia. Memang, kinerja sahamnya di bawah rata-rata benchmark atau setara punya tingkat keuntungan yang lambat dibandingkan pergerakan pasar.
Namun, sebenarnya kondisi ini memberikan peluang rebound dan justru memberikan peluang beli bagi investor. Apalagi, dari sisi fundamental relatif baik. Saat ini, harga komoditas sedang naik sesuai dengan siklus sektoral setelah krisis pandemi Covid-19 yang cenderung mereda.
Alfatih juga mengatakan, mengingat luas lahan yang semakin terbatas, intensifikasi lahan perusahaan perkebunan juga masih dapat jadi strategi untuk meningkatkan produktivitas. Dengan melakukan pengolahan produk turunan dari minyak kelapa sawit, nilai tambah komoditas sawit bisa ditingkatkan.
Dilihat dari prospek kenaikan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), Alfatih berpendapat, secara umum saham perusahaan perkebunan sawit saat ini sangat menarik untuk dijadikan pilihan investasi atau transaksi di pasar saham.
“Menurut saya, saham sektor perkebunan kelapa sawit sangat menarik untuk menjadi pilihan karena dari harganya saat ini termasuk rendah dibandingkan pada 2 hingga 3 tahun lalu. Di sisi lain, harga penjualan minyak kelapa sawit justru sedang tertinggi selama 3 tahun terakhir,” jelasnya.
Selain itu, dia mengatakan saham emiten sawit termasuk Laggard Stock di Bursa Efek Indonesia. Memang, kinerja sahamnya di bawah rata-rata benchmark atau setara punya tingkat keuntungan yang lambat dibandingkan pergerakan pasar.
Namun, sebenarnya kondisi ini memberikan peluang rebound dan justru memberikan peluang beli bagi investor. Apalagi, dari sisi fundamental relatif baik. Saat ini, harga komoditas sedang naik sesuai dengan siklus sektoral setelah krisis pandemi Covid-19 yang cenderung mereda.
Alfatih juga mengatakan, mengingat luas lahan yang semakin terbatas, intensifikasi lahan perusahaan perkebunan juga masih dapat jadi strategi untuk meningkatkan produktivitas. Dengan melakukan pengolahan produk turunan dari minyak kelapa sawit, nilai tambah komoditas sawit bisa ditingkatkan.
Lihat Juga :