Tarif Turun Jadi Rp275.000, Bisnis PCR Sangat Menguntungkan Sepanjang Pandemi

Kamis, 28 Oktober 2021 - 19:36 WIB
"HET PCR di lapangan banyak diakali oleh provider (penyedia) dengan istilah 'PCR Ekspress', yang harganya tiga kali lipat dibanding PCR yang normal. Ini karena PCR normal hasilnya terlalu lama, minimal 1x24 jam," tutur Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi.

Dia juga menilai kebijakan wajib PCR bagi penumpang pesawat diskriminatif karena memberatkan dan menyulitkan konsumen. "Diskriminatif, karena sektor transportasi lain hanya menggunakan antigen, bahkan tidak pakai apapun," katanya.

Perbedaan harga pulau Jawa dan luar Jawa selama ini banyak lab kesehatan yang memaksimalkan keuntungan dari PCR. Terutama soal biaya tes yang tidak sama antara di Jawa dan luar Jawa, meski pemerintah sudah menetapkan harga tertingginya. Ketika ada permintaan hasil tes lebih cepat, bakal harga tes PCR bisa berubah menjadi lebih mahal.

Sementara itu Indonesia Corruption Watch (ICW) pernah memperkirakan penyedia jasa tes swab PCR sudah meraup untung sebesar Rp10,46 triliun sepanjang pandemi Covid-19 di Indonesia. Hitungan itu berdasarkan jumlah spesimen yang sudah dikumpulkan sebanyak 25.840.025 dikalikan dengan 20% profit keuntungan dari harga PCR sebelum diturunkan yakni sebesar Rp900 ribu per tes.

Diketahui, komponen harga tes swab PCR terdiri dari pembelian alat, harga reagen, biaya SDM, depresiasi alat, overheat, biaya administrasi, dan margin profit untuk penyedia jasa sebesar 15-20 persen.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!