MUI Soroti Kondisi Garuda Indonesia yang Nelangsa dan Terancam Bangkrut
Jum'at, 29 Oktober 2021 - 08:55 WIB
"Karena kalau hal ini tidak bisa segera diatasi, maka tentu sudah pasti keuangan Garuda akan berdarah-darah dan bangkrut sehingga nyawanya tidak lagi bisa terselamatkan," tuturnya.
Anwar menilai dua faktor penyebab Garuda di ujung tanduk. Pertama, faktor eksternal yang terkait pandemi Covid-19. Sepanjang pandemi berlangsung, pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat yang menyebabkan okupansi penumpang pesawat menurun drastis. Hal ini membuat penpatan perusahaan menurun signifikan.
"Jelas sangat jauh berkurang. Hal ini tentu akan sangat berdampak terhadap pemasukan dan pendapatan Garuda. Di samping itu keadaan juga diperparah oleh sikap para lessor asing yang sewenang-wenang dalam memberikan kredit dan itu kata Peter F. Gontha telah terjadi selama 2012-2016," ungkapnya.
Baca juga: Ngeri, Harga Sewa Pesawat Garuda Indonesia ke Lessor Bisa Tembus Ratusan Miliar per Bulan
Selain itu, kemampuan manajemen melakukan negosiasi dengan lessor asing dinilai tidak berjalan mulus. Akibatnya, nasib Garuda kian nelangsa. Penyebab kedua, menurut Anwar, adalah faktor internal. Anwar menilai manajemen dan karyawan ikut membuat keadaan keuangan perusahaan semakin terpuruk karena tidak mengambil langkah-langkah efisiensi secara agresif. Meski efisiensi mengakibatkan berkurangnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan karyawan.
"Sudah jelas aliran dana masuk sangat rendah semestinya mereka juga melakukan langkah-langkah yang signifikan dengan mengurangi pengeluaran perusahaan dan salah satu caranya yaitu mengurangi gaji dan fasilitas yang mereka pendapat selama ini," bebernya.
Dalam konteks ini, lanjut dia, lemahnya semangat berkorban manajemen dan karyawan untuk melakukan sesuatu yang berarti dan bermakna terhadap perusahaan.
Anwar menilai dua faktor penyebab Garuda di ujung tanduk. Pertama, faktor eksternal yang terkait pandemi Covid-19. Sepanjang pandemi berlangsung, pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat yang menyebabkan okupansi penumpang pesawat menurun drastis. Hal ini membuat penpatan perusahaan menurun signifikan.
"Jelas sangat jauh berkurang. Hal ini tentu akan sangat berdampak terhadap pemasukan dan pendapatan Garuda. Di samping itu keadaan juga diperparah oleh sikap para lessor asing yang sewenang-wenang dalam memberikan kredit dan itu kata Peter F. Gontha telah terjadi selama 2012-2016," ungkapnya.
Baca juga: Ngeri, Harga Sewa Pesawat Garuda Indonesia ke Lessor Bisa Tembus Ratusan Miliar per Bulan
Selain itu, kemampuan manajemen melakukan negosiasi dengan lessor asing dinilai tidak berjalan mulus. Akibatnya, nasib Garuda kian nelangsa. Penyebab kedua, menurut Anwar, adalah faktor internal. Anwar menilai manajemen dan karyawan ikut membuat keadaan keuangan perusahaan semakin terpuruk karena tidak mengambil langkah-langkah efisiensi secara agresif. Meski efisiensi mengakibatkan berkurangnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan karyawan.
"Sudah jelas aliran dana masuk sangat rendah semestinya mereka juga melakukan langkah-langkah yang signifikan dengan mengurangi pengeluaran perusahaan dan salah satu caranya yaitu mengurangi gaji dan fasilitas yang mereka pendapat selama ini," bebernya.
Dalam konteks ini, lanjut dia, lemahnya semangat berkorban manajemen dan karyawan untuk melakukan sesuatu yang berarti dan bermakna terhadap perusahaan.
Lihat Juga :