Lunasi Utang Impor Minyak Rp3,57 Triliun ke Iran, Sri Lanka Bayar Pakai Teh

Kamis, 23 Desember 2021 - 07:28 WIB
Tetapi juru bicara Asosiasi Perkebunan Ceylon, yang mencakup semua perusahaan perkebunan besar di Sri Lanka, mengatakan mode transaksi ini adalah solusi plester oleh pemerintah. "Hal itu tidak selalu menguntungkan eksportir, karena kami akan dibayar dalam rupee, menghindari pasar bebas, dan tidak memberikan nilai nyata bagi kami," tambah Roshan Rajadurai.

Baca Juga: Hujan Deras di Sri Lanka dan India Selatan Tewaskan 34 orang

Sri Lanka dilaporkan harus memenuhi kewajiban sekitar USD4,5 miliar terkait pembayaran utang tahun depan, dimulai dengan pembayaran obligasi negara internasional senilai USD500 juta pada bulan Januari. Namun, cadangan devisa negara negara itu berkurang menjadi USD1,6 miliar pada akhir November, berdasarkan data terbaru dari bank sentral.

Gubernur Bank Sentral Sri Lanka, Ajith Nivard Cabraal mengatakan, pada awal bulan ini bahwa Sri Lanka yakin dapat "dengan mulus" membayar semua utang negara yang jatuh tempo pada tahun 2022.

Sebagai informasi Sri Lanka memproduksi sekitar 340 juta kg teh setiap tahun. Tahun lalu mereka mengekspor 265,5 juta kg, dengan pendapatan mencapai sebesar USD1,24 miliar pada tahun 2020. Hampir 5% dari populasi Sri Lanka bekerja di industri yang menghasilkan miliaran dolar tersebut, mereka memetik daun di lereng gunung dan memproses teh di pabrik perkebunan.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!