Kena Gembok Lagi, Bagaimana Prospek ADMR? Ini Kata Analis
Selasa, 25 Januari 2022 - 15:27 WIB
"Saya lihat untuk ADMR ini seperti halnya saham yang baru IPO, relatif dikejar (investor) ritel karena harganya yang terus naik," kata Riska saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Selasa (25/1/2022).
Namun, menyusul kenaikan yang sudah berlipat ganda tersebut, Riska menilai investor perlu mewaspadai aksi profit taking. Terlebih perseroan juga telah melaporkan penggunaan dana hasil IPO sejak 14 Januari 2022 yang lalu.
Lebih lanjut, dari sisi teknikal, Riska melihat saham ADMR sudah jenuh beli. Berdasarkan indikator teknikal Relative Strength Index (RSI) per 24 Januari 2022, ADMR memiliki nilai 75,37, yang menunjukkan berada di area jenuh beli (overbought) dan memiliki kecenderungan untuk mengalami koreksi.
"Sama halnya jika memakai indikator Williams Percent Range yang berada di level -11, yang artinya pergerakan bullish ADMR telah jenuh," imbuhnya.
Kendati demikian, Riska menilai tren bullish masih terlihat dalam indikator teknikal Moving Average. Ada peluang investor untuk melakukan buy ADMR dalam jangka pendek dengan strategi buy on weakness di area Rp850 - Rp988. "Tapi untuk harga sekarang saya rasa sudah kemahalan," beber Riska. Karenanya, Riska pun meminta investor lebih berhati-hati terhadap tekanan aksi profit taking untuk perdagangannya ke depan.
Menilik fundamental perusahaan, pendapatan Adaro Minerals tercatat menunjukkan peningkatan menjadi USD206,62 juta hingga Agustus 2021, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar USD74,79 juta. Demikian halnya laba tahun berjalan, tumbuh mencapai USD44,99 juta hingga Agustus 2021, dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencatatkan rugi periode berjalan USD18,63 juta. Sementara, total aset perseroan tercatat mencapai USD811 juta, liabilitas USD761,96 juta, dan ekutias mencapai USD49,03 juta.
Namun, menyusul kenaikan yang sudah berlipat ganda tersebut, Riska menilai investor perlu mewaspadai aksi profit taking. Terlebih perseroan juga telah melaporkan penggunaan dana hasil IPO sejak 14 Januari 2022 yang lalu.
Lebih lanjut, dari sisi teknikal, Riska melihat saham ADMR sudah jenuh beli. Berdasarkan indikator teknikal Relative Strength Index (RSI) per 24 Januari 2022, ADMR memiliki nilai 75,37, yang menunjukkan berada di area jenuh beli (overbought) dan memiliki kecenderungan untuk mengalami koreksi.
"Sama halnya jika memakai indikator Williams Percent Range yang berada di level -11, yang artinya pergerakan bullish ADMR telah jenuh," imbuhnya.
Kendati demikian, Riska menilai tren bullish masih terlihat dalam indikator teknikal Moving Average. Ada peluang investor untuk melakukan buy ADMR dalam jangka pendek dengan strategi buy on weakness di area Rp850 - Rp988. "Tapi untuk harga sekarang saya rasa sudah kemahalan," beber Riska. Karenanya, Riska pun meminta investor lebih berhati-hati terhadap tekanan aksi profit taking untuk perdagangannya ke depan.
Menilik fundamental perusahaan, pendapatan Adaro Minerals tercatat menunjukkan peningkatan menjadi USD206,62 juta hingga Agustus 2021, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar USD74,79 juta. Demikian halnya laba tahun berjalan, tumbuh mencapai USD44,99 juta hingga Agustus 2021, dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencatatkan rugi periode berjalan USD18,63 juta. Sementara, total aset perseroan tercatat mencapai USD811 juta, liabilitas USD761,96 juta, dan ekutias mencapai USD49,03 juta.
Lihat Juga :